Archive for August, 2008

Dealing With The Issues Of Dicipline

Saturday, August 23rd, 2008

Syndicate This Article

Dia tampaknya seperti seorang gadis
kecil yang manis. "Angela!" Ibunya berteriak jengkel. "Angela, Mama
bilang ayo cepat kemari sekarang juga!".

Saya melihat wajah gadis cantik berusia lima tahun yang berdiri di
tangga sebuah pertokoan itu tiba-tiba berubah menjadi merah padam.
"Tidak!" dia menjerit. "Aku ingin melihat mainan itu sekarang!"

Ibunya tampak jengkel saat dia menggandeng tangan Angela dan mulai
menyeretnya, berteriak-teriak di toko itu. Saat mereka melewati saya,
saya melihat mata ibunya melotot sambil mengomel, "Hari yang seperti
biasanya."

More…

A Ball Inside The Paper Bag

Saturday, August 23rd, 2008

 Syndicate This Article 

Seorang pemain profesional bertanding
dalam sebuah turnamen golf. Ia baru saja membuat pukulan yang bagus
sekali yang jatuh di dekat lapangan hijau. Ketika ia berjalan di
fairway, ia mendapati bolanya masuk ke dalam sebuah kantong kertas
pembungkus makanan yang mungkin dibuang sembarangan oleh salah seorang
penonton. Bagaimana ia bisa memukul bola itu dengan baik? Sesuai dengan
peraturan turnamen, jika ia mengeluarkan bola dari kantong kertas itu,
ia terkena pukulan hukuman. Tetapi kalau ia memukul bola bersama-sama
dengan kantong kertas itu, ia tidak akan bisa memukul dengan baik.
Salah-salah, ia mendapatkan skor yang lebih buruk lagi. Apa yang harus
dilakukannya?

More…

Only 5 Minutes

Sunday, August 17th, 2008

Seorang ibu duduk di samping seorang pria
di bangku dekat Taman-Main di West Coast Park pada suatu minggu pagi
yang indah cerah. "Tuh.., itu putraku yang di situ," katanya, sambil
menunjuk ke arah seorang anak kecil dalam T-shirt merah yang sedang
meluncur turun dipelorotan. Mata ibu itu berbinar, bangga."Wah, bagus
sekali bocah itu," kata bapak di sebelahnya. "Lihat anak yang sedang
main ayunan di bandulan pakai T-shirt biru itu? Dia anakku,"sambungnya,
memperkenalkan.

Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya. "Ayo Jack,
gimana kalau kita sekarang pulang?" Jack, bocah kecil itu, setengah
memelas, berkata, "Kalau lima menit lagi,boleh ya, Yahhh? Sebentar lagi
Ayah, boleh kan? Cuma tambah lima menit kok,yaaa…?" Pria itu
mengangguk dan Jack meneruskan main ayunan untuk memuaskan hatinya.

More…

Ayah Juga Lupa

Sunday, August 10th, 2008

Dengar, Nak: Ayah mengatakan ini pada
saat kau terbaring tidur, sebelah tangan kecil merayap di bawah pipimu
dan rambutmu yang keriting pirang lengket pada dahimu yang lembab. Ayah
menyelinap masuk seorang diri ke kamarmu. Baru beberapa menit yang
lalu, ketika Ayah sedang membaca koran di ruang perpustakaan, satu
sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan perasaan bersalah Ayah
datang masuk menghampiri pembaringanmu.

Ada hal-hal yang Ayah pikirkan, Nak: Ayah selama ini bersikap
kasar kepadamu. Ayah membentakmu ketika kau sedang berpakaian hendak
pergi ke sekolah karena kau cuma menyeka mukamu sekilas dengan handuk.
Lalu Ayah lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah
tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.

Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan
makananmu. Kau menelan terburu-buru makananmu. Kau meletakkan sikumu di
atas meja. Kau mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu
kau baru mulai bermain dan Ayah berangkat mengejar kereta api, kau
berpaling dan melambaikan tangan sambil berseru, "Selamat jalan, ayah!"
dan Ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab, "Tegakkan bahumu!"

Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu Ayah
muncul dari jalan, Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang
hingga lutut, memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ada
lubang-lubang pada kaus kakimu. Ayah menghinamu di depan kawan-kawanmu,
lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah. Kaus kaki mahal - dan kalau
kau yang harus membelinya, kau akan lebih berhati-hati! Bayangkan itu,
Nak, itu keluar dari pikiran seorang ayah!

More…