[Resensi Buku] Ortu Kenapa, Sih ?
Thursday, August 17th, 2006|
Seiring semakin canggihnya teknologi di masa kini, mengakibatkan penyebaran informasi yang serba cepat. Apabila tidak diimbangi dengan pengetahuan akan norma-norma kehidupan yang benar, maka niscaya informasi yang diterima dapat menimbulkan efek negatip baik bagi si penerima informasi maupun orang-orang di sekelilingnya. Berangkat dari pentingnya pemahaman akan hal tersebut diatas, beberapa member blogfam (sebuah komunitas blogger) bersama-sama menulis sebuah buku yang ditujukan bagi kaum remaja, mengingat di usia remaja yang sangat rentan terhadap segala informasi yang diterimanya. Apabila tidak dibekali akan pengetahuan norma kehidupan yang benar, niscaya semua informasi tersebut akan diterima mentah-mentah oleh remaja tersebut. Dengan bahasa gaul dan mudah dimengerti, buku ini sangatlah cocok untuk para remaja dalam menyikapi segala sesuatu di dalam hubungannya dengan keluarga, khususnya dalam hal berkomunikasi dengan orang tua. Cerita pada setiap lembaran di buku ini adalah merupakan pengalaman pribadi dari para penulis sendiri, hal tersebut merupakan nilai plus tersendiri mengingat pengalaman adalah guru yang paling berharga dalam kehidupan. Selain itu juga pada setiap bagian akhir cerita pada buku ini dilengkapi dengan quistioner ataupun tips-tips. Sehingga para pembaca akan semakin memahami intisari yang dimaksud oleh sang penulis pada cerita tersebut Meskipun demikian, buku ini tidak selalu menawarkan solusi yang terbaik bagi kedua belah pihak, dikarenakan buku ini terkesan hanya melihat dari satu sisi saja, yaitu dari pihak remaja, sehingga semua tips-tips ataupun quistioner seakan-akan hanya “meminta” agar para remaja untuk mengubah cara berkomunikasi mereka. Sedangkan untuk mencapai hasil yang terbaik dalam berkomunikasi, kedua belah pihak, orangtua dan remaja, diharapkan merubah cara berkomunikasi menjadi lebih banyak mendengar daripada berbicara (menuntut). Seperti pada cerita “Impian Ancur”, dimana orang tua yang terlalu memaksakan kehendaknya sehingga secara tidak langsung mengorbankan masa depan anaknya sendiri. Mungkin buku ini konsumsi utamanya adalah remaja, akan tetapi tak ada salahnya apabila pada setiap akhir bagian cerita, diikutsertakan pula tips untuk para orangtua, siapa tahu banyak pula orang tua yang ikut membaca buku ini. Terlepas dari kekurangan tersebut, buku ini juga sangatlah bagus untuk dibaca oleh orangtua, sehingga orangtua dapat lebih mengerti dan memahami apa maksud dari si anak, sehingga tidak ada lagi kisah-kisah “Impian Ancur” di masa depan. Last but not least, selalu utamakan kesabaran dan kerendahan hati dalam berkomunikasi, meskipun memang hal tersebut merupakan sesuatu yang gampang untuk diucapkan, tetapi kadang-kadang sangat sulit untuk diterapkan ![]() |
Written by: Monx Digital Library

