Bisakah Pikiran Negatif Dikendalikan?
Saturday, January 21st, 2006Oleh SAWITRI SUPARDI SADARJOEN, PSIKOLOG
Alkisah ada dokter yang memberi tumpangan kepada tentara muda yang bermaksud ke rumah sakit. Tentara itu kehilangan satu tangannya. Ekspresi wajah tentara itu ceria, segar, banyak bicara dan tampak suka bercanda. Dokter itu sama sekali tidak memperhatikan satu tangannya yang tidak ada. Tentara itu mengatakan, ia heran kenapa dokter itu tidak berkomentar apa pun tentang kehilangan tangannya. Padahal, hampir semua orang yang bertemu dengannya akan menanyakan dalam peperangan mana dia kehilangan tangan dan pertanyaan lain secara mendetail.
“Pasti pertanyaan itu menyakitkan dirimu, ya?” tanya si dokter. “Ya. iyalah,” jawab si tentara. “Tetapi, saya sekarang bisa menempatkan masalah itu dengan baik. Saya tahu apa yang diharapkan ornng dari saya dan apa yang saya harapkan dari orang lain. Saya tahu juga bila saya berlarut memikirkan tangan buntung, berarti saya terus-menerus mengasihani diri sendiri”.
“Sekarang saya tahu di mana saya harus menempatkan rasa kasihan terhadap diri sendiri. Saya harus mulai bangkit untuk menegakkan apa yang seharusnya saya inginkan. Sekarang saya bahagia dan akhirnya saya terima kenyataan, karena bagaimanapun saya masih bisa jalan, melihat, mendengar, dan bekerja. Saya harus bersyukur”, demikian lanjut tentara itu dengan suara semakin tegas dan jelas bahkan terkesan ceria. Ketika sampai di rumah sakit, ia melambaikan tangan dan mengatakan, “Terima kasih atas tumpangannya. lni adalah berkah yang juga saya syukuri. Hari ini saya bisa menumpang di mobil seorang dokter yang baik hati.”
Perempuan obesitas usia 30 tahun, yang hidup dengan suami dan anak-anaknya dalam rumah yang nyaman, mengeluh menderita panyakit jantung, sering cemas tidak menentu, terkadang sesak napas dan sulit tidur.
Setelah melalui pemeriksaan media, ternyata ia tidak mengalami gangguan fisik serius, tetapi dokter ahli jantungnya gagal meyakinkan bahwa fungsi jantungnya sebenarnya baik. Ia begitu tidak bahagia dan sering timbul keinginan bunuh diri.
Terkadang kita tidak habis berpikir, mengapa perempuan yang dikelilingi suami dan anak-anak yang mencintainya di rumah nyaman, menyiksa diri dengan keluhan berlanjut sampai terkesan tidak berdaya dan tidak dapat ditolong siapa pun.
Jawabannya sederhana, saat perempuan itu masih gadis, ia adalah gadis yang langsing. Peningkatan berat tuhuh terjadi saat kehamilan anak-anaknya. Ketakutan akan kemungkinan suaminya tidak mencintainya lagi muncul karena saat ini ia gemuk dan perasaan buruk rupa terus membayangi dirinya.
Mengusir Perasan Negatif
Bila kita simak dua kasus ini, wajar mereka mengalami perasaan takut dan mengasihani diri sendiri. Bedanya, tentara itu tahu penyebab timbulnya rasa mengasihani diri itu dan memeranginya, sementara perempuan obesitas tersebut terpaku dan dikuasai rasa kurang nyaman sehingga dilanda kecemasan berlanjut.
Kita pun sesekali pernah merasa ketakutan, mengasihani diri, dan merasa diri paling malang di dunia. Apalagi bila kita melihat rekan kita sepertinya tampak lebih beruntung, dalam hal finansial atau kemajuan profesi, misalnya. Kita dilanda iri hati. Iri hati merupakan cikal bakal perasaan negatif yang mengganggu karena pikiran yang buruk justru membuat kita terpuruk secara mental maupun fisik
Apa yang harus kita lakukan untuk mengusir pikiran buruk yang subyektif tersebut?
Pertama, kenali pikiran buruk tersebut dengan menganalisis perasaan kita. Saat kita berpikir serentak kita juga akan merasakan sesuatu. Pikiran buruk muncul, perasaan terpuruk timbul.
Bila kebiasaan berpikir kita subyektif, maka ketakutan, iri hati, kebencian dan erotik akan dirasakan sebagai perasaan depresi, cemas, tidak berdaya. Berpikir dan merasakan bergulir seperti lingkaran setan sebab dan akibat. Kebiasaan cara berpikir kita akan menentukan apakab kita akan menjadikan keluhan fisik yang kita rasakan tetap sederhana atau menjadi keluhan fisik serius.
Kebiasaan berpikir kita pun menentukan apakah kita akan selalu kembali ke masa lalu yang menyedihkan dan membuat terpuruk berlanjut atau berorientasi ke masa depan yang membuat kita hidup berbahagia.
Berpikir negatif akan mengikis kekuatan kita dalam menempa kebiasaan berpikir konstruktif. Kebiasaan berpikir positif merupakan kata kunci untuk perkembangan kepribadian kita secara menyeluruh. Bila kita bisa berpikir untuk berjalan ke rumah sakit atau ke arah yang berlawanan dengan rumah sakit, kita dapat berpikir untuk menuju ketidakhabagiaan yang kronis atau kehabagiaan dan keceriaan yang penuh kecukupan diri. Pilihan terserah kepada kita