Archive for December, 2005

Gizi Generasi Televisi …

Monday, December 26th, 2005

Jakarta, Rabu
SAYA terenyak ketika sopir taksi yang saya tumpangi mengeluh. Uang dua puluh ribu rupiah yang dibawanya pulang habis dalam sehari untuk jajanan kedua anaknya yang masih di bangku SD.

Lebih mencengangkan lagi ketika ia menyebutkan berbagai merek jenis makanan kemasan yang menjadi favorit anak-anak itu. Mereka sudah tidak pernah mau menyentuh sayur kecuali dipaksa dan diancam. Aneka rasa makanan dalam aneka kemasan menawan merambah warung-warung kecil. Paha ayam dan irisan sayur hijau-cukup berupa gambar pada bungkusnya-serta pernyataan “diperkaya oleh mineral dan zat gizi” ampuh mendongkrak nilai jual. Padahal, kompleksitas kebutuhan gizi manusia jelas melampaui angka yang tertera. Pernah, seorang artis cilik dalam iklan televisi menepis buah jeruk asli demi dagangan terbarunya: serbuk minuman artifisial beraroma jeruk.

Masalah busung lapar pertama-tama adalah masalah ketidakadilan ekonomi. Situasi ini diperparah dengan terpesonanya pemerintah oleh investasi pelbagai produk industri pangan. Bukan hanya abai terhadap tanggung jawabnya menyediakan pangan bersubsidi bagi kaum miskin dan memberikan pendidikan pangan yang adil serta mendasar (baca: bebas kepentingan investasi produk industri pangan), pemerintah juga tidak lagi mencermati hasil-hasil penelitian tentang korelasi produk teknologi pangan dan dampaknya di kemudian hari.

Kenyang semu
.Saat ini pemenuhan kebutuhan gizi manusia sehat bersumber dari alam tergilas keberingasan investasi industri pangan. Pasar banjir oleh refined foods dengan segala risikonya, termasuk meningkatkan penyakit kardiovaskuler, menekan daya kekebalan tubuh, mencetuskan reaksi peradangan tersembunyi dan rasa sakit kronis. Sudah bertahun-tahun Barry Sears-pakar biokimia dan nutrisi-menjadi musuh bebuyutan industri pangan Amerika Serikat karena pemaparannya. Dengan minimnya pengetahuan tentang makanan sehat, bagaimana masyarakat dapat membuat pilihan bijak?

Terpesona akan tayangan iklan makanan, bangsa yang kini lebih mahir menonton televisi ketimbang membaca menjadi ladang subur bagi tumbuhnya “makanan dagang”. Seorang ibu akan merasa lebih berdosa bila tak mampu membeli susu dan biskuit anjuran iklan ketimbang memberi dua potong tempe dan sepiring sayur bayam yang bisa dikonsumsi tiga kali sehari. Pernah seorang ibu miskin bersikukuh memberikan susu kaleng kepada anak balitanya. Jadilah satu sendok teh bubuk susu terlarut dalam dua
ratus cc botol bayi!

Tidak ada kebijakan dan intervensi pemerintah saat ini yang sanggup membendung komersialisasi pangan menyesatkan, bahkan pantas dituding sebagai salah satu penyebab malnutrisi. Minimnya informasi mengenai sumber pangan sehat yang terjangkau semua lapisan jelas mencerminkan
kekalahan food for health dalam perang melawan food for commerce yang tengah mengambil korban rakyat jelata.

Malnutrisi tidak lagi melanda mereka yang sungguh-sungguh miskin, tetapi juga yang miskin pengetahuan kesehatan sebenarnya, yang sirna oleh simulacra kecanggihan sains. Kita sibuk mencari virus baru atau mutasinya sebagai penyebab penyakit yang tiba-tiba mencuat menjadi perhatian massa.

Mengapa tidak mencermati pertanyaan ini: Bagaimana daya tahan tubuh manusia diserang?

Bukan suatu kebetulan bahwa dalam rentetan penyakit virus-sebutlah SARS, flu burung, demam berdarah dengue, polio-ujungnya mendapat gong besar: busung lapar. Daya tahan kekebalan tubuh menderita secara kronis hingga anjlok ke titik paling rendah-dan saat itu serangan penyakit mendera.

Sirnanya keprofesian
.Kita berada di puncak kejenuhan antara keserakahan dalam bentuk komersialisasi dan tuntutan alam yang senantiasa menghendaki kesetimbangan serta harmoni. Simulacra menggiurkan tengah “mengenyangkan” perut bangsa ini, dari lapisan massa yang “kurang berpendidikan” hingga mereka yang berprofesi pemberi jasa pelayanan masyarakat.

Berbagai masalah kesehatan tidak lagi ditangani melalui cara berpikir rasional yang dapat dipertanggungjawabkan. Pemenuhan prosedur menjadi jauh lebih utama. Padahal, begitu banyak prosedur masih bertabrakan dengan berbagai kepentingan. Wajar jika seorang ibu perlu membawa pulang bayinya yang busung lapar dari rumah sakit hingga mati di rumah karena biaya rumah sakit sudah tak tertanggungkan. Rumah sakit dalam hal ini selalu tampak “benar”.

Mereka punya surat sakti: tanda tangan pasien menolak rawat atau “pulang paksa”. Apa pun alasannya. Sistem pelayanan kesehatan dan pemerintah pun terbebas dari tanggung jawab moral.

Kepentingan komersial meluluhlantakkan aspek moral dan pelayanan yang bersifat lege artis (sesuai dengan keprofesian). Privatisasi Rumah Sakit Umum Daerah adalah fenomena terpentalnya pemerintah
sebagai penyelenggara public service dalam kinerja infrastruktur, untuk lalu terperangkap dalam laissez faire. Horornya: privatisasi dianggap dengan sendirinya “meningkatkan kualitas”. Caranya, biarkan
rumah sakit saling bersaing termasuk menjejalinya dengan alat kesehatan berteknologi canggih yang mengakibatkan biaya pelayanan melonjak. Ke mana akan pergi si miskin busung lapar?

Samsi Jacobalis, mantan Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, pernah mengatakan, sains makin didominasi teknologi, sedangkan teknologi makin didominasi motivasi mencari laba. Artinya,
sains dan teknologi cenderung menjadi alat kekuasaan bisnis global. Adakalanya teknologi canggih digunakan bukan atas indikasi medik yang mutlak, melainkan demi pengembalian modal investasi alias
kredit bank yang dpergunakan membeli alat itu.

Dalam “RS Indonesia Tak Siap Bersaing” (Kompas, 22/12/2004) tersingkap lebar testimoni memalukan. Nyawa manusia dipertaruhkan demi kepentingan-kepentingan yang sulit diterangkan.

Kriminalitas komersialisasi
.Menangani busung lapar secara terpadu adalah satu hal. Tetapi tanpa keseriusan pendidikan yang adil tentang pangan sehat plus murah, terutama tanpa ketegasan pemerintah menangani komersialisasi pangan, ancaman malnutrisi tidak berhenti.

Pemberdayaan masyarakat agar mampu menentukan dengan bijak kelangsungan hidupnya adalah kewajiban pemerintah yang tak bisa dielakkan. Bukan hanya menggratiskan biaya perawatan. Jika sehat, masyarakat tidak perlu rumah sakit. Tentu saja ini mengandaikan media bersedia mendidik ulang selera pasar dan gaya hidup. Sumber protein bayi yang terbaik bukan biskuit dengan kemasan
bergambar bayi montok kebule-bulean. Makanan instan yang didistribusikan saat bencana alam bukan dewa penolong modern ketimbang dapur umum zaman lauk tempe dan sayur asem. Bangsa ini
memang sedang diracuni komersialisasi teknologi pangan. Hedonisme rasa membungkam ratapan tubuh yang haus makanan sehat.

Komersialisasi di era global adalah soal biasa. Tetapi ketika melibatkan jenis pangan dan pelayanan kesehatan paling dasar, apalagi menyangkut hidup mati orang, komersialisasi adalah sebuah
kriminalitas.
* Oleh: Tan Shot Yen Seorang Dokter, Peserta Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta
Rabu, 15 Juni 2005, 07:29 WIB

http://www.kompas.com/kesehatan/news/0506/15/073107.htm

Sang Anak

Saturday, December 24th, 2005

Ada seorang pria, termasuk anak lelakinya, suka mengkoleksi karya seni
yang langka. Mereka memiliki seluruh koleksi karya seni yang pernah ada, dari
Picasso sampai Raphael. Bapa dan anak ini seringkali duduk bersama dan
mengagumi keindahan karya-karya seni tersebut.
Ketika terjadi perang Vietnam, anak lelaki ini diutus ke medan peperangan.
Seorang pemuda yang gagah berani dan gugur di medan perang ketika ia
sedang menyelamatkan jiwa prajurit lain. Hati ayahnya hancur ketika ia mendengar
hal tersebut, menangisi kepergian anak tunggalnya.
Sebulan kemudian, sesaat sebelum hari Natal, terdengar sebuah ketukan di
pintu rumahnya. Seorang anak muda berdiri di depan pintu membawa sebuah
bingkisan besar. Dan berkata, “Tuan, Anda tidak mengenal saya, tetapi saya
adalah prajurit yang diselamatkan oleh anak Anda.. Ia menyelamatkan banyak
jiwa hari itu, dan ia sedang menggendongku ke tempat yang aman ketika ia
ditembak, tepat terkena di hatinya.. dan ia meninggal seketika. Anak Tuan
seringkali berbicara tentang Anda dan kecintaan Anda terhadap karya seni.”
Kemudian anak muda itu menyerahkan bingkisan yang dibawanya. “Saya tahu
pemberian saya ini tidak terlalu banyak. Saya bukanlah senimanyang hebat,
tetapi saya rasa anak Tuan akan menginginkan Tuan memilikinya.”
Si Ayah membuka bingkisan tersebut. Lukisan itu adalah lukisan anaknya,
yang dilukis sendiri oleh prajurit muda itu. Ia terbelalak
kagum menatap lukisan anaknya, bagaimana prajurit muda itu mampu menangkap
kepribadian anaknya, dan menuangkannya dalam lukisan. Dan perhatian sang
ayah juga tertarik pada sinar mata anaknya, membuatnya begitu terharu
sehingga ia meneteskan air mata.

Sang ayah mengucapkan terima kasih kepada prajurit muda tersebut dan
menawarkan uang untuk menggantikan hadiah itu. “Oh, tidak Tuan.. Saya
tidak akan pernah mampu membayar kembali kebaikan anak Tuan. Ini adalah
hadiah..”

Lukisan itu kemudian digantungkan di ruang tamunya. Setiap kali tamu
berkunjung ke rumahnya, ia menunjukkan mereka lukisan anaknya terlebih
dahulu, sebelum ia menunjukkan koleksi seninya yang lain.
Dan beberapa bulan kemudian, sang ayah meninggal dunia. Dan diadakan
lelang besar untuk koleksi lukisannya. Orang-orang kaya dan terhormat datang
berkumpul, merasa senang bahwa pada akhirnya mereka mempunyai kesempatan
untuk memiliki karya-karya seni yang langka sebagai koleksi mereka.
Lukisan sang anak diletakkan di atas mimbar. Pelelang kemudian memukulkan
palunya, “Lelang akan dimulai dengan lukisan sang anak.
Siapa yang akan menawar lukisan ini?”
Ruangan tersebut tiba-tiba hening. Dari arah belakang terdengar suara,
“Kami ingin melihat lukisan-lukisan terkenal! Lewati lukisan ini!”
Tetapi pelelang tetap berkata, “Apakah ada yang menawar lukisan ini?
Dimulai dari $100? $200?”
Terdengar suara lain yang mulai marah, “Kami tidak datang untuk melihat
lukisan ini. Kami mau melihat Van Gogh, Rembrandt.. Jangan main-main.
Mulailah serius!”

Namun, pelelang tersebut tetap berkata, “Sang Anak! Sang Anak! Siapa yang
akan mengambil Sang Anak?”. Akhirnya, terdengar suara dari belakang
ruangan.
Suara tukang kebun keluarga tersebut. “Aku akan berikan $10 untuk lukisan
itu.” Karena ia miskin, ia hanya sanggup memberikan $10.
“Ada $10! Siapa yang akan menawar $20?”
“Biarkan ia membayar $10! Sekarang ayo perlihatkan kami lukisan yang
lain!”
“$10! Siapa yang akan menawar $20?”
Para tamu mulai marah. Mereka tidak ingin melihat lukisan sang Anak.
Mereka hendak mengeluarkan uang dan menginvestasikannya pada koleksi,
lukisan yang langka dan mahal!

Si pelelang memukul-mukulkan palunya ke atas meja, “Satu! Dua!
TERJUAL untuk $10!” Seorang pria yang duduk di barisan kedua mulai
berteriak, “Sekarang ayo serius mulai dengan pelelangan ini!!!”

Pelelang itu kemudian meletakkan palunya. “Maaf. Acara lelang sudah
berakhir.”
“Apa?? Bagaimana dengan lukisan-lukisan yang lain??”
“Maaf. Ketika saya diminta untuk mengadakan lelang ini, saya diberitahukan
bahwa acara lelang ini adalah salah satu rahasia untuk dilakukan dalam
surat wasiatnya. Dan saya tidak boleh membuka rahasia tersebut sampai acara ini
berakhir. Hanya lukisan sang anak yang boleh dilelang. Siapa yang membeli
lukisan tersebut akan memiliki seluruh harta kekayaannya, properti, tanah,
termasuk seluruh koleksi lukisannya. Bapak yang membeli lukisan sang Anak
memperoleh semuanya!!

Tuhan memberikan AnakNya 2.000 tahun yang lalu untuk mati di kayu
salib. Seperti pelelang tersebut berkata, pesan hari ini adalah
“Sang Anak, sang Anak!! Siapa yang mau mengambil sang Anak?” Karena
Anda lihat, siapa yang mengambil Sang Anak memperoleh semuanya.

Terj. bebas: Azallea Lesmana (Untuk kalangan sendiri)
Pengarang: Tidak diketahui

(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

Wait

Saturday, December 17th, 2005

Title: Wait
Artist: Steelheart
Lyrics:

Ain’t the world such a lonely place
All caught up, a fighting race
Am I the one that hides the pain
After all we cry the same

Wait, wait
Feel my heart, it’s slowing down
Wait, I’m waiting for love
cause I need you now

Heaven must try
And steer us right
And hold it steady, out light
We froze in sunshine, and cried in rain
Oh sweet Jesus
Here it comes again

Wait, i’m wait
Feel my heart, it’s slowing down
Wait, I’m waiting for love
cause I need you now

Yeah, so I reach through the light
I feel (nothing)
You know, you know love is hard to find
Ah, don’t let me go
I tried, I tried

Wait, i’m wait
Feel my heart, it’s slowing down
Wait, I’m waiting for love
cause I need you now

Kenalilah Racun yang ada pada rokok

Thursday, December 8th, 2005

Pada waktu merokok, anda menghisap kurang lebih 4000 bahan kimia, termasuk racun-racun ini:

1. Nikotin
2. Tar
3. Acetone: Penghapus cat
4. Naphtylamine: Bahan penyebab kanker
5. Methanol: Bahan bakar roket
6. Pyrene: Bahan penyebab kanker
7. Dimethylnitrosamine
8. Napthalene: Kapur barus
9. Cadmium: Bahan penyebab kanker, biasa dipakai pada accu mobil
10. Carbon Monoxide: gas beracun yang keluar dari knalpot
11. Benzopyrene: Bahan penyebab kanker
12. Vinyl Chloride: Bahan penyebab kanker, biasa digunakan untuk bahan plastik PVC
13. Hydrogen Cyanide: Racun yang digunakan untuk pelaksanaan hukuman mati
14. Toluidine
15. Ammonia: Pembersih lantai
16. Urethane: Bahan penyebab kanker
17. Toluene: Pelarut Industri
18. Arsenic: Racun semut putih
19. Dibenzacridine: Bahan penyebab kanker
20. Phenol
21. Butane: Bahan bakar korek api

**SUMBER: Health Departement of Western Australia**

Kasih Ibu

Tuesday, December 6th, 2005

Apakah Anda mengasihi Ibu Anda? Apakah Anda masih ingat betapa besar Kasih sayangnya Ibu Anda? Bacalah artikel ini!

Artikel pertama

Jalannya sudah ter-titih2, karena usianya sudah lebih dari 70 th, sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ia bisa dan mau keluar rumah. Walaupun ia mempunyai seorang anak perempuan, ia harus tinggal dirumah jompo, karena kehadirannya tidak di-inginkan. Masih teringat olehnya, betapa berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya tsb.

Ayah dari anak tsb minggat setelah menghamilinya tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatannya.

Disamping itu keluarganya menuntut agar ia menggugurkan bayi yg belum dilahirkan, karena keluarganya merasa malu mempunyai seorang putri yg hamil sebelum nikah, tetapi ia tetap mempertahakannya, oleh sebab itu ia diusir dari rumah orang tuanya. Selain aib yg harus di tanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Ketika ia melahirkan putrinya, tidak ada seorang pun yg mendampinginya. Ia tidak mendapatkan kecupan manis maupun ucapan selamat dari siapapun juga, yg ia dapatkan hanya cemohan, karena telah melahirkan seorang bayi haram tanpa bapak.

Walaupun demikian ia merasa bahagia sekali atas berkat yg didapatkannya dari Tuhan dimana ia telah dikaruniakan seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang yg ia miliki hanya untuk putrinya seorang, oleh sebab itulah putrinya diberi nama Love - Kasih. Siang ia harus bekerja berat di pabrik dan diwaktu malam hari ia harus menjahit sampai jauh malam, karena itu merupakan penghasilan tambahan yg ia bisa dapatkan.

Terkadang ia harus menjahit s/d jam 2 pagi, tidur lebih dari 4 jam sehari itu adalah sesuatu kemewahan yg tidak pernah ia dapatkan. Bahkan Sabtu Minggu pun ia masih bekerja menjadi pelayan restaurant. Ini ia lakukan semua agar ia bisa membiayai kehidupan maupun biaya sekolah putrinya yg tercinta.

Ia tidak mau menikah lagi, karena ia masih tetap mengharapkan, bahwa pada suatu saat ayah dari putrinya akan datang balik kembali kepadanya, disamping itu ia tidak mau memberikan ayah tiri kepada putrinya.

Sejak ia melahirkan putrinya ia menjadi seorang vegetarian, karena ia tidak mau membeli daging, itu terlalu mahal baginya, uang untuk daging yg seyogianya ia bisa beli, ia sisihkan untuk putrinya. Untuk dirinya sendiri ia tidak pernah mau membeli pakaian baru, ia selalu menerima dan memakai pakaian bekas pemberian orang, tetapi untuk putrinya yg tercinta, hanya yg terbaik dan terbagus ia berikan, mulai dari pakaian s/d makanan.

Pada suatu saat ia jatuh sakit, demam panas. Cuaca diluaran sangat dingin sekali, karena pada saat itu lagi musim dingin menjelang hari Natal. Ia telah menjanjikan untuk memberikan sepeda sebagai hadiah Natal untuk putrinya, tetapi ternyata uang yg telah dikumpulkannya belum mencukupinya.

Ia tidak ingin mengecewakan putrinya, maka dari itu walaupun cuaca diluaran dingin sekali, bahkan dlm keadaan sakit dan lemah, ia tetap memaksakan diri untuk keluar rumah dan bekerja.

Sejak saat tsb ia kena penyakit rheumatik, sehingga sering sekali badannya terasa sangat nyeri sekali. Ia ingin memanjakan putrinya dan memberikan hanya yg terbaik bagi putrinya walaupun untuk ini ia harus bekorban, jadi dlm keadaan sakit ataupun tidak sakit ia tetap bekerja, selama hidupnya ia tidak pernah absen bekerja demi putrinya yg tercinta.

Karena perjuangan dan pengorbanannya akhirnya putrinya bisa melanjutkan studinya diluar kota. Disana putrinya jatuh cinta kepada seorang pemuda anak dari seorang konglomerat beken. Putrinya tidak pernah mau mengakui bahwa ia masih mempunyai orang tua. Ia merasa malu bahwa ia ditinggal minggat oleh ayah kandungnya dan ia merasa malu mempunyai seorang ibu yg bekerja hanya sebagai babu pencuci piring di restaurant. Oleh sebab itulah ia mengaku kepada calon suaminya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.

Pada saat putrinya menikah, ibunya hanya bisa melihat dari jauh dan itupun hanya pada saat upacara pernikahan di gereja saja. Ia tidak di undang, bahkan kehadirannya tidaklah di inginkan. Ia duduk di sudut kursi paling belakang di gereja, sambil mendoakan agar Tuhan selalu melindungi dan memberkati putrinya yg tercinta. Sejak saat itu ber-th2 ia tidak mendengar kabar dari putrinya, karena ia dilarang dan tidak boleh menghubungi putrinya. Pada suatu hari ia membaca di koran bahwa putrinya telah melahirkan seorang putera, ia merasa bahagia sekali mendengar berita bahwa ia sekarang telah mempunyai seorang cucu.

Ia sangat mendambakan sekali untuk bisa memeluk dan menggendong cucunya, tetapi ini tidak mungkin, sebab ia tidak boleh menginjak rumah putrinya. Untuk ini ia berdoa tiap hari kepada Tuhan, agar ia bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat dan bertemu dgn anak dan cucunya, karena keinginannya sedemikian besarnya untuk bisa melihat putri dan cucunya, ia melamar dgn menggunakan nama palsu untuk menjadi babu di rumah keluarga putrinya. Ia merasa bahagia sekali, karena lamarannya diterima dan diperbolehkan bekerja disana. Dirumah putrinya ia bisa dan boleh menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai Oma dari cucunya melainkan hanya sebagai bibi pembantu dari keluarga tsb. Ia merasa berterima kasih sekali kepada Tuhan, bahwa ia permohonannya telah dikabulkan.

Dirumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus, bahkan binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi oleh putrinya daripada dirinya sendiri. Disamping itu sering sekali di bentak dan dimaki oleh putri dan anak darah dagingnya sendiri, kalau hal ini terjadi ia hanya bisa berdoa sambil menangis di dlm kamarnya yg kecil dibelakang dapur. Ia berdoa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan putrinya, ia berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada putrinya, ia berdoa agar hukuman itu dilimpahkan saja kepadanya, karena ia sangat menyayangi putrinya.

Setelah bekerja ber-th2 sebagai babu tanpa ada orang yg mengetahui siapa dirinya dirumah tsb, akhirnya ia menderita sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Mantunya merasa berhutang budi kepada pelayan tuanya yg setia ini sehingga ia memberikan kesempatan untuk menjalankan sisa hidupnya di rumah jompo. Puluhan th ia tidak bisa dan tidak boleh bertemu lagi dgn putri kesayangannya. Uang pension yg ia dapatkan selalu ia sisihkan dan tabung untuk putrinya, dgn pemikiran siapa tahu pada suatu saat ia membutuhkan bantuannya.

Pada tahun lampau beberapa hari sebelum hari Natal, ia jatuh sakit lagi, tetapi ini kali ia merasakan bahwa saatnya sudah tidak lama lagi. Ia merasakan bahwa ajalnya sudah mendekat. Hanya satu keinginan yg ia dambakan sebelum ia meninggal dunia, ialah untuk bisa bertemu dan boleh melihat putrinya sekali lagi. Disamping itu ia ingin memberikan seluruh uang simpanan yg ia telah kumpulkan selama hidupnya, sebagai hadiah terakhir untuk putrinya.

Suhu diluaran telah mencapai 17 derajat dibawah nol dan salujupun turun dgn lebatnya, jangankan manusia anjingpun pada saat ini tidak mau keluar rumah lagi, karena diluaran sangat dingin, tetapi Nenek tua ini tetap memaksakan diri untuk pergi kerumah putrinya. Ia ingin betemu dgn putrinya sekali lagi yg terakhir kali. Dgn tubuh menggigil karena kedinginan, ia menunggu datangnya bus ber-jam2 diluaran. Ia harus dua kali ganti bus, karena jarak rumah jompo tempat dimana ia tinggal letaknya jauh dari rumah putrinya.

Satu perjalanan yg jauh dan tidak mudah bagi seorang nenek tua yg berada dlm keadaan sakit.

Setiba dirumah putrinya dlm keadaan lelah dan kedinginan ia mengetuk rumah putrinya dan ternyata purtinya sendiri yg membukakan pintu rumah gedong dimana putrinya tinggal. Apakah ucapan selamat datang yg diucapkan putrinya?

Apakah rasa bahagia bertemu kembali dgn ibunya? Tidak! Bahkan ia di tegor:

“Kamu sudah bekerja dirumah kami puluhan th sebagai pembantu, apakah kamu tidak tahu bahwa untuk pembantu ada pintu khusus, ialah pintu dibelakang rumah!”

“Nak, Ibu datang bukannya untuk bertamu melainkan hanya ingin memberikan hadiah Natal untukmu. Ibu ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin yg terakhir kalinya, bolehkah saya masuk sebentar saja, karena diluaran dingin sekali dan sedang turun salju. Ibu sudah tidak kuat lagi nak!” kata wanita tua itu. “Maaf saya tidak ada waktu, disamping itu sebentar lagi kami akan menerima tamu seorang pejabat tinggi, lain kali saja. Dan kalau lain kali mau datang telepon dahulu, jangan sembarangan datang begitu saja!” ucapan putrinya dgn nada kesal. Setelah itu pintu di tutup dgn keras. Ia mengusir ibu kandungnya sendiri, seperti juga mengusir seorang pengemis. Tidak ada rasa kasih, jangankan kasih belas kesianpun tidak ada.

Setelah beberapa saat kemudian bel rumah bunyi lagi, ternyata ada orang mau pinjam telepon dirumah putrinya “Maaf Bu, mengganggu, bolehkah kami pinjam teleponnya sebentar untuk menelpon kekantor polisi, sebab dihalte bus di depan ada seorang nenek meninggal dunia, rupanya ia mati kedinginan!” Wanita tua ini mati bukan hanya kedinginan jasmaniahnya saja, tetapi juga perasaannya. Ia sangat mendambakan sekali kehangatan dari kasih sayang putrinya yg tercinta yg tidak pernah ia dapatkan selama hidupnya.

Artikel Kedua

Ibu saya tidak melek komputer, bahkan beliau seorang wanita yg buta aksara, tetapi untuk mang Ucup pribadi beliau adalah wanita yg paling hebat, dimana s/d detik ini mang Ucup masih bisa belajar dari padanya. Belajar memberikan dan membagikan kasih tanpa pamrih dan tanpa lagas. Ibunya mang Ucup menderita sakit kanker, tetapi ia tidak pernah mengeluh. Tiap kali saya menelpon Ibu, pertanyaan standard selalu diajukan kepada saya: “Apa yg Ibu bisa bantu untukmu nak?” Ia tidak memohon untuk dirinya sendiri dlm doanya, yg ia utamakan selalu hanyalah kami anak2nya! Ia selalu mendoakan kami siang dan malam.

Maka dari itulah untuk mang Ucup, Ibu saya adalah wanita yg tercantik sejagat raya, melebihi daripada Michael Preifer walaupun ia barusan saja terpilih oleh majalah People sebagai wanita tercantik sedunia untuk th 1999.

Seorang Ibu melahirkan dan membesarkan anaknya dgn penuh kasih sayang tanpa mengharapkan pamrih apapun juga.

Seorang Ibu bisa dan mampu memberikan waktunya 24 jam sehari bagi anak2nya, tidak ada perkataan siang maupun malam, tidak ada perkataan lelah ataupun tidak mungkin dan ini 366 hari dlm setahun.

Seorang Ibu mendoakan dan mengingat anaknya tiap hari bahkan tiap menit dan ini sepanjang masa. Bukan hanya setahun sekali saja pada hari2 tertentu.

Kenapa kita baru bisa dan mau memberikan bunga maupun hadiah kepada Ibu kita hanya pada waktu hari Ibu saja ” sedangkan di hari2 lainnya tidak pernah mengingatnya, boro2 memberikan hadiah, untuk menelpon saja kita tidak punya waktu. Kita akan bisa lebih membahagiakan Ibu kita apabila kita mau memberikan sedikit waktu kita untuknya, waktu nilainya ada jauh lebih besar daripada bunga maupun hadiah.

Renungkanlah:

Kapan kita terakhir kali menelpon Ibu?

Kapan kita terakhir mengundang Ibu?

Kapan terakhir kali kita mengajak Ibu jalan2?

Dan kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dgn ucapan terima kasih kepada Ibu kita?

Dan kapankah kita terakhir kali berdoa untuk Ibu kita?

Berikanlah kasih sayang selama Ibu kita masih hidup,

percuma kita memberikan bunga maupun tangisan apabila Ibu telah berangkat,

karena Ibu tidak akan bisa melihatnya lagi.

When Mother prayed, she found sweet rest,

When Mother prayed, her soul was blest;

Her heart and mind on Christ were stayed,

And God was there when Mother prayed!

Our thanks, O God, for mothers

Who show, by word and deed,

Commitment to Thy will and plan

And Thy commandments heed.

A thousand men may build a city,

but it takes a mother to make a home.

Apabila Anda mengasihi Ibunda Anda sebarkanlah tulisan ini kepada rekan2 lainnya, agar mereka juga sadar selama Ibunda mereka masih hidup berikanlah bakti kasih Anda kepada Ibunda terkasih sebelumnya terlambat.

(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)