Archive for October, 2005

“First Love Never Dies”, Benarkah?

Monday, October 31st, 2005

OLEH SAWITRI SUPARDI SADARJOEN, PSIKOLOG
Kompas, Minggu, 30 Oktober 2005

“Ibu, selama tiga bulan terakhir saya benar­benar merasa tersiksa karena saya tidak bisa melepaskan ingatan tentang seseorang. Begitu kangennya ingin jumpa dengan orang itu, sering tanpa saya sadari air mata saya menetes.
“Siapakah orang’ itu?” Bekas pacar saya ketika saya masih bersekolah di SMA. “Cinta pertamakah?” Ya, Bu. Tiga bulan lalu saya bertemu dia di acara reuni eks siswa angkatan 1955-1975. Terus terang begitu saya ketemu dia hati saya tiba-tiba berdebar dan tidak berani menatap mukanya. Rupanya dia juga memerhatikan saya, dan segera menemui saya, mengajak saya bersalaman. Kami bertukar alamat dan tanpa disangka beberapa hari setelah reuni dia menghubungi saya melalui telepon saling bertukar cerita tentang segala hal yang dialami selama hampir 50 tahun tidak bertemu. Saya heran sendiri kenapa bisa begini? Suami saya baik, keluarga kami hidup cukup, punya dua anak, anak-anak sudah menikah semua dan memberi tiga cucu. Apakah saya orang yang kurang bersyukur atau psikopat?” Demikian seorang ibu (K, 65) dengan tiga cucu.

Romantisme cinta

Reuni antar teman SMA memang reuni penuh nostalgia karena masa remaja saat bersekolah SMA adalah masa penuh bobot gejolak serta gairah bersosialisasi. Biasanya di situlah remaja mendapat pengalaman jatuh cinta untuk pertama kali. Sering orang mengatakan cinta SMA adalah cinta pertama yang dinilai
hanya sebagai cinta monyet, sekadar suatu pengalaman penghayatan perasaan kecil yang dapat berlalu dengan mudah dan jarang berakhir dengan perkawinan. Namun, ternyata justru cinta pertama dapat memiliki nilai romantisme yang tidak sederhana pengaruhnya dalam dunia perasaan seseorang.
Romantika cinta pertama sangat didominasi fantasi karena untuk kadar tertentu cinta saat itu adalah buta.

Gejolak kegairahan emosi membuat para pencinta bisa serentak menjadi pandai berpuisi dan menempatkan kekasihnya sebagai sosok ideal, bahkan serta merta bisa mengabaikan informasi-informasi negatif tentang sosok kekaSihnya. Imajinasi, harapan, dan ide-ide yang menggairahkan memenuhi relung hati pencinta yang sedang dilanda romantisme. Belum sampai terjadi penurunan kadar fantasi oleh berbagai sebab, apakah larangan orangtua untuk pacaran
semasa masih belajar di SMA, pindah tempat kota mengikuti orangtua, kecemburuan buta oleh pertemanan lain, atau perbedaan taraf sosial ekonomi orangtua, sering memaksa remaja memutus cinta dengan penuh derita.

Kalaupun setelah dewasa pasangan kekasih ini masing-masing membangun keluarga dengan orang lain, ingatan akan fantasi penuh gairah tentang pasangan cinta masa remaja tetap mencengkeram kuat di benak masing-masing. Mengapa? Karena fantasi penuh gairah, imajinasi, dan harapan indah belum sempat diikuti pengalaman nyata berhubungan, dalam ikatan perkawinan.

Dengan demikian, imajinasi penuh gairah masih bercokol dalam benak, sedangkan dengan pasangan perkawinan yang telah dilalui selama 40 tahun segalanya menjadi rutin dan segala hal yang rutin dengan sendirinya melunturkan gairah gejolak kehidupan perkawinan.

“Pada awalnya saya berbahagia dan menunggu-nunggu dering telepon dari dia, tetapi lama­lama saya kasihan melihat suami saya, dia suami yang baik. Kenapa saya abaikan suami saya hanya untuk sekadar menjalin hubungan tanpa tujuan jelas dengan eks pacar di SMA, padahal saya sudah setua ini, punya tiga cucu, hidup damai dalam keluarga, dan eks pacar juga sudah kakek-kakek, punya dua cucu pula.

“Akhirnya saya mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan ini dengan cara tegas. Namun, apa jadinya? Ternyata saya tidak menyangka saya merasa kelimpungan sendiri dan murung hampir sepanjang hari sehingga timbul pertanyaan dalam diri apakah saya psiko­pat?”

Solusi

a) Cinta romantis yang berangkat dari cinta pertama memang mengesankan, namun bobot fantasi imajinasi sangat besar sehingga sulit ditemukan dalam kenyataan. Cengkeraman ingatan fantasi dan imajinasi pada masa remajalah yang membuat seolah first love tidak pernah mati. Umur seolah tidak berperan, sudah jadi kakek-nenek pun dapat mengalaminya. Jadi K bukan psikopat karena terngiang-ngiang romantisme cinta pertama, tetapi apa pun alasannya harus diupayakan melepaskannya dari ingatan.

b) Tanamkan dalam benak, andaikan hubungan yang saat ini terasa romantis dilanjutkan dengan perkawinan, belum tentu sukses karena fantasi romantisme akan cepat sirna oleh kenyataan yang dihadapi. Apalagi, bila ingatan akan kebahagiaan dalam kebersamaan dengan anak dan cucu kandung pun muncul
kembali tanpa diminta.

Cengkeraman ingatan fantasi dan imajinasi pada masa remajalah yang membuat seolah “first love” tidak pernah mati.

c) Kesalahan utama dalam ikatan perkawinan adalah kegagalan dalam menjalin hubungan intim dengan komitmen penuh pada perkawinan. Ketahuilah, relasi intim dengan komitmen akan menghasilkan relasi pertemanan penuh kasih. Perbaikilah kesalahan ini dan yakinilah keintiman relasi pertemanan yang penuh kasih lebih stabil daripada gairah romantisme. Pasangan yang sebanyak mungkin mengekspresikan pertemanan yang penuh kasih akan meraih kesuksesan perkawinan.

d) Cobalah untuk tetap segar dan terus menggapai setiap kesempatan guna menikmati pengalaman baru dengan pasangan perkawinan.***

(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

Cinta Luar Biasa Dari Seorang Laki-laki Biasa

Sunday, October 30th, 2005

Cinta Luar Biasa Dari Seorang Laki-laki Biasa
Rubrik : Cerita Mini
Publikasi : 16-08-2005

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit
mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan
lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang,
hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar,
keheranan yang terjadi bukan semata miliknya,
melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama,
kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka
ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan
surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di
kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja
berlalu. Suasana sore di kampus sepi.
Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu
matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt.
Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali
beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania
terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang
keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba
bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak
jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia
menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di
kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara
mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu
saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk
melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen
yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga
generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah
berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di
wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak
nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama
membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika
mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan
keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan
gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa
lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya
tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang
paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa
barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak
sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang
mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata
penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh
yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama
mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa
dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja
boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak
harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami.
Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu
juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi
seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih
gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa.
Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki
manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia
kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub
dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata
‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata
mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak
suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli.
Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga
biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa,
dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka
matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya
ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan
seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana
tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan
seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan
membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak
tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya
fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli
tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme
berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania
menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan
nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania
bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih
sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa
sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya,
Nania masih belum mampu juga menjelaskan
kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata
mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli,
begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya
dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia
meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat
perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta
Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata
mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!
Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga
pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar,
dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes.
Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka
tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu
argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya
lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan
kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung
mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses,
mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk
menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua.
Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi
punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak
juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah
memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu
perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja
lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak.
Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari
cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu,
ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu
memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika
digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu.
Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang
berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud
baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?
Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan
lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik
menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari
keluarga biasa, dengan pendidikan biasa,
berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang
amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.
Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak
penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di
kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah,
rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan
Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup
perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli
melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang
di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik
saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik
ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang
pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek
tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia
yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum
bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania
mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak
sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat
Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar.
Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua,
Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania
memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat
itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga
perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat.
Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam,
mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di
rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu
meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan
menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara
kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang
datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan
jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan
tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit
sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga
menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah
bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam
kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan
Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir
yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua.
Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah,
mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran
akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan
mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas.
Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang
sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi
perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap
nasi pun bisa ditelannya.

Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri
memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali
pusar.

Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak
dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir
kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak
melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar
operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba
putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia
tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter
itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada
dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun.
Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan
itu sempat menangkap teriakan-teriakan di
sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak,
sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa
menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan
zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania
mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap,
berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang
tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi
mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu
lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak,
sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda.
Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas
yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak
bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti
kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli
bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia
harus membagi perhatian bagi Nania dan juga
anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru,
si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya
sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat
hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut
menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke
rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak
banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak
keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah
meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat
anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan
tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin
penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak
perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam.
Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat
telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang
perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk
sanak famili mereka, melihat lelaki dengan
penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda
mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa
merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya
berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan
kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga
mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih
berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji
dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya
mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku
kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan
suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan
itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian
dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan
Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia
bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum
di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat
bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania.
Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak
memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak
bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat
sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias
perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan
kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya
yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab.
Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang
pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis,
menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke
dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan
airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya
beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah
lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir.
Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar
anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore
setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju
rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja
datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan
tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik
sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan
cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania
selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania
mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa
cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan
tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya
pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling
cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata
Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga
jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu
menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran,
nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus
ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal
yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu
bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan
pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua
yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang
berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana
kemari. Masih dengan senyum hangat di antara
wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang
yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga,
sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya
memberi pandangan iba, namun juga mengomentari,
mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari
perempuan kedua!

Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang
menerima dia apa adanya.

(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

Lepas Masa Laluku

Saturday, October 29th, 2005

LEPAS MASA LALUKU
By: Radja

mengingat dan membuka
kisah lembaran lama
membuatku tak bisa bicara

ingin kucium bumi
tempat aku berpijak
agar terhapus semua penyesalan

seputih awan yg di langit
menghiasi angkasa
sebening hatiku melepas
masa lalu yg penuh hitam

reff: hilang, hilanglah sudah
bergugur membisu jauh
di dasar hatiku

lepas, lepas semua
lepas masa lalu
jadikan kenangan yg terindah

ingin kucium bumi
tempat aku berpijak
agar terhapus semua penyesalan

seputih awan yg di langit
menghiasi angkasa
sebening hatiku melepas
masa lalu yg penuh hitam

repeat reff [3x]

Saya dan Perempuan ‘Aneh’ di KWK 02

Wednesday, October 26th, 2005

sumber: Saya dan Perempuan ‘Aneh’ di KWK 02, Penulis: Helvy Tiana Rosa
(http://helvytr.multiply.com)

Saya dan Perempuan ‘Aneh’ di KWK 02

Saya pertama kali bertemu dengan perempuan itu
kira-kira dua minggu yang lalu. Hampir saya berteriak
kaget ketika masuk ke dalam angkutan KWK 02 dan
bertubruk pandang dengannya. Apalagi tak seorang pun
ada dalam angkutan jurusan Cililitan-Cilangkap itu.

Waktu menunjukkan pukul 22.00. Malam pekat. Saya
pulang dari TIM, usai rapat dengan teman-teman Dewan
Kesenian Jakarta. Saya memang sengaja tak naik taksi,
agar bisa lebih hemat. Ah, saya menarik napas tak
panjang. Perempuan itu tak berkedip menatap saya. Saya
membuang wajah ke jalan raya, tak mau balas menatap.
Ya Allah, siapa dia? Kapan ia turun? Di mana ia turun?
Ada apa dengannya? Pertanyaan-pertanyaan itu
berkecamuk di benak saya. Apakah ia gila? Mau
menodong? Apa ia akan membayar ongkos? Atau perlu saya
bayari?

Akhirnya, setelah cukup lama berdua-dua di angkot,
perempuan itu pun turun di depan panti jompo,
Cipayung. Entah mengapa saya merasa lega sekali.

Setelah kejadian tersebut saya masih beberapa kali
bertemu perempuan itu. Sukar bagi saya menggambarkan
sosoknya. Ia legam dan sedikit bungkuk. Badan pendek,
seolah bersisik. Rambutnya pendek dan acak-acakan,
seperti tak pernah disisir.. Matanya bulat seolah mau
keluar dari kelopak. Bibir sumbing sedang giginya
panjang tak beraturan. Ia memakai baju kumal yang
membuatnya semakin kusam saja. Pergelangan tangannya
dipenuhi gelang karet berwarna-warni.

Dua kali saya bertemu dalam angkot. Pertama hanya
berdua, dan berikutnya beramai-ramai dengan 6-7 orang
lainnya. Semua tak ada yang ‘berani’ melihatnya. Ia
seperti orang yang entah datang dari mana dan terus
menatapi para penumpang satu persatu. Malah setelah ia
turun dari kendaraan, seorang lelaki berkata:
“Gila, saya kira penampakan! Serem banget tuh
perempuan!”

Setelah pertemuan kedua, entah mengapa saya mulai
berpikir bahwa ia hanyalah perempuan biasa seperti
juga saya. Ia mungkin bekerja di suatu tempat
sebagaimana saya. Wajahnya memang seram, namun
bukankah ia tak pernah sekalipun mengganggu?

Hari berikutnya, KWK 02 yang saya naiki dari
Cililitan, dipenuhi penumpang. Saya melihat perempuan
itu naik dari Kramat Jati. Begitu ia hadir, hampir
semua penumpang buang muka atau menunduk. Pokoknya tak
mau melihat, dan kalau bisa tak dekat dengannya.

Ia masuk, mengangguk pada saya. Saya terpana dan
membalas anggukannya. Tak lama seorang ibu-yang tampak
terrpelajar-membagi-bagikan brosur dalam angkot.

“Ada lowongan kerja di perusahaan saya. Langsung
daftar aja. Gajinya lumayan loh,” katanya.

Semua orang mendapat brosur, tapi tidak perempuan itu.

Tiba-tiba saya merasakan sesuatu di batin saya.
Mengapa ibu itu tak mau memperlakukan wanita tersebut
sederajat dengan penumpang yang lain? Apa karena ia
buruk rupa? Apa karena ia dianggap tak pantas, meski
sekadar memegang brosur wangi itu? Lantas mengapa jadi
saya yang sedih?

Entah datang darimana, tiba-tiba saya sudah menyapa
perempuan ‘aneh’ itu.

“Kemana, mbak? Kita sudah beberapa kali bertemu ya?
Ingat nggak?” sapa saya.

Beberapa orang di dalam angkot nyaris terbelalak
memandang saya seakan-akan saya adalah orang aneh
lainnya di sana. Saya tersenyum saja.

“Iya mbak. Saya mengenali mbak,” tuturnya sopan.

“Saya juga,” saya tertawa. “Mbak dari mana? Kerja
atau…?”

Saya mencoba untuk tak mempersoalkan wajahnya. Ya
Allah, hanya Engkau yang sempurna. Kami hanya sesama
hambamu. Tak ada yang lebih di mataMU dari kami,
selain taqwa kami.
Sungguh, siapa menjamin aku lebih baik dari perempuan
ini.

Tak lama kami sudah mengobrol dengan asyik. Perempuan
itu bercerita, ia menjaga anak kakaknya bila sang
kakak pergi bekerja.

“Kakak saya yang menggaji saya,” katanya tertawa. Ia
hampir setiap malam naik angkutan 02.

Lalu kami ngobrol soal hujan, banjir, soal panti
balita dan panti jompo di dekat rumahnya, sampai soal
tsunami. Saya sampai kaget sendiri bisa sejauh itu.

Tak lama, perempuan tersebut bersiap turun. Namun apa
yang ia katakan sebelum sosoknya berlalu, tak mungkin
bisa saya lupakan.

“Semoga Allah menjaga Mbak. Saya senang akhirnya ada
orang yang mau negur saya, yang ngajak ngomong di
angkot. Terimakasih ya. Assalaamu’alaikum,” suaranya
bergetar seperti ingin menangis.

Kata-kata perempuan itu berhamburan bersama angin.
Namun saya sempat menangkapnya dan sesuatu terasa
“nyes” di hati. Orang-orang dalam kendaraan itu tak
ambil pusing.

“Gila nggak sih cewek itu?” celutuk seorang pemuda
pada saya.

Saya menggeleng. Benar-benar menggeleng untuk beberapa
detik.

Pada akhirnya saya tahu betapa berarti, betapa
mewah-nya sebuah sapa. Bukankah sapa adalah salah satu
bentuk penghargaan kita terhadap orang lain? Maka apa
yang menghalangi kita untuk lebih sering menyapa?
Bukan hanya pada mereka yang kita kenal, yang
kebanyakan necis dan wangi. Namun juga menyapa mereka,
yang tanpa sadar telah kita sisihkan dari jalan yang
selama ini kita lalui.

Hari ini saya yakin, Mbak Sri, perempuan itu, bukan
orang aneh. Ia hanya perempuan yang memendam rindu
bertahun-tahun lamanya, hanya untuk sebuah sapa yang
kau ucapkan di malam dingin.***

(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

Maling Pulsa Telepon

Tuesday, October 25th, 2005

Forward dari milis:

Pada tanggal 2 - 4 September 2005, kami sedang ada
acara retret di Puncak, kami meminta bantuan untuk menjaga rumah kami dengan
keponakan-keponakan kami pada tanggal 3 September 2005 ada telpon dari
seseorang bernama ibu Puri dan mengaku dari PT. Telkom dan mengatakan
bahwa telpon kami disadap atau disuntik dan disuruh memencet tombol telpon
0809 100 3535 4 dan memerintahkan untuk ditaruh gagang telpon diluar
pesawat telpon sampai dia menginformasikan gagang telpon itu ditaruh ke
pesawat telpon pada +/- pukul 21.30 baru keponakan kami menaruh gagang telponnya
kemudian pada esok harinya di menelpon kembali pada +/- pukul 9.00 dan
memerintahkan kembali untuk memencet tombol itu kembali dengan hal yang
sama sampai pukul 20.00
Setelah kami kembali pulang dari retret di Puncak baru kami coba untuk
menghubungi Telkom ternyata bahwa tidak ada ganguan ditelpon kami dan
setalah itu kami menaruh gagang telpon ditempatnya dan orang yang bernama
Ibu Puri itu menelpon dan menanyakan kenapa ditaruh telponnya ? Kami
menjawab bahwa kami sudah menhubungi Telkom dan dia langsung mematikannya
dan sekitar kira kira 5 menit dia menghubungi kami kembali bahwa kami
didenda 5 juta rupiah karena tidak mengikuti perintahnya oleh sebab itu kami
langsung menantang dia kalau mau ambil uangnya silakan datang ambil dirumah
kami akan tetapi orang tersebut tidak datang-datang dan kami sudah curiga
bahwa ini adalah maling Pulsa telpon.

Kami suadah mengecek ke Telkom bahwa tagihan kami
dalam waktu 2 hari adalah minimum sebesar + / - 7 Juta.

Ke esok harinya kami mengurus ke PT. Telkom, dan
petugas disana mengatakan bahwa itu adalah penipuan Pulsa dan kami
mencoba juga ke Kepolisian untuk melaporkan hal ini agar dapat
diusut dan tidak terulang dengan kejadian yang sama seperti ini ternyata
dikatakan tidak bisa karena kami kenapa memencet tombol telpon tersebut.

Maka dengan kejadian seperti ini mohon disebar-luaskan karena No telpon 0809
100 3535 4 adalah PREMIUM CALL dan No telpon ini adalah PENIPU, jadi agar
diabaikan jika ada orang yang telpon seperti pengalaman kami ini.

PERLU KAMI GARIS BAWAHI BAHWA DENGAN NO AWAL 0809
XXX XX XX X ADALAH PREMIUM CALL YANG PULSANYA BISA MEMBENGKAK.

MOHON DSEBAR LUASKAN AGAR RAKYAT KECIL TIDAK TERTIPU
DENGAN ADANYA KEJADIAN SEPERTI INI SAYA YAKIN BUKAN SAYA SAJA YANG KENA SEPERTI INI.

The Story of the One-Eyed Mother

Monday, October 17th, 2005

My mom only had one eye.
I hated her… she was such an embarrassment…
She cooked for students & teachers…to support the family. There was this
one day during elementary school and my mom came. I was so embarrassed. How
could she do this to me? I threw her a hateful look and ran out.

The next day at school…
“Your mom only has one eye?!?!”…eeeee said a friend.
I wished my mom would just disappear from this world.
So I said to my mom, “Mom… Why don’t you have the other eye?! If you’re
only gonna make me a laughing stock, why don’t you just die?!!!”

My mom did not respond…
I guess I felt a little bad, but at the same time, it felt good to think
that I had said what I’d wanted to say all this time… Maybe it was because
my mom hadn’t punished me, but I didn’t think that I had hurt her feelings
very badly.

That night…
I woke up, and went to the kitchen to get a glass of water.
My mom was crying there, so quietly, as if she was afraid that she might
wake me. I took a look at her, and then turned away. Because of the thing I
had said to her earlier, there was something pinching at me in the corner of
my heart. Even so, I hated my mother who was crying out of her one eye. So I
told myself that I would grow up and become successful.

Then I studied real hard.
I left my mother and went to Singapore to study.

Then, I got married.
I bought a house of my own. Then I had kids, too…
Now I’m living happily as a successful man.
I like it here because it’s a place that doesn’t remind me of my mom.

This happiness was getting bigger and bigger, when…

What?! Who’s this?!
It was my mother…Still with her one eye.
I felt as if the whole sky was falling apart on me.
Even my children ran away, scared of my mom’s eye.
And I asked her, “Who are you?!” “I don’t know you!!!” as if trying to make
that real. I screamed at her, “How dare you come to my house and scare my
children!”

GET OUT OF HERE! NOW!!!”

And to this, my mother quietly answered,
“Oh, I’m so sorry. I may have gotten the wrong address,”
and she disappeared out of sight.

Thank good ness… She doesn’t recognize me. I was quite relieved. I told
myself that I wasn’t going to care, or think about this for the rest of my
life. Then a wave of relief came upon me…

One day, a letter regarding a school reunion came to my house in Singapore.
So, lying to my wife that I was going on a business trip, I went. After the
reunion, I went down to the old shack, that I used to call a house… Just
out of curiosity

There, I found my mother fallen on the cold ground.
But I did not shed a single tear.
She had a piece of paper in her hand….It was a letter to me.

“My son…
I think my life has been long enough now…
And… I wont visit Singapore anymore…
But would it be too much to ask if I wanted you
to come visit me once in a while? I miss you so much..
And I was so glad when I heard you were coming for the reunion. But I
decided not to go to the school.

For you…
And I’m sorry that I only have one eye, and I was an embarrassment for you.

You see, when you were very little, you got into an accident, and lost your
eye. As a mom, I couldn’t stand watching you having to grow up with only one
eye… So I gave you mine… I was so proud of my son that was seeing a
whole new world for me, in my place, with that eye. I was never upset at you
for anything you did.. The couple times that you were angry with me.. I
thought to myself, ‘It’s because he loves me..’

My son… Oh, my son… ”

This message has a very deep meaning and is passed to remind people of the
goodness they have enjoy was because of others directly or indirectly. Pause
a moment and consider your life! Be thankful of what you have today compared
to many millions who do not live lives as you do!

Do spend some time in prayer for your mum out there!

(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

Bunga Berduri

Friday, October 14th, 2005

Sandra masuk ke dalam toko bunga dengan langkah berat. Ia sedang
mengalami hal berat dalam kehidupannya. Ketika ia sedang hamil empat bulan pada
kehamilannya yang kedua, sebuah kecelakaan mobil merengut nyawa
janinnya.

Pada minggu “Thanksgiving” ini, ia mungkin akan melahirkan seorang putra
jika kecelakaan itu tidak terjadi. Ia sangat sedih, benar-benar terpukul
atas kejadian itu. Tetapi sepertinya, kejadian itu belum cukup,
perusahaan di mana tempat suaminya bekerja, menugaskan suaminya untuk bekerja di
bagian cabang. Kemudian, adik perempuannya, yang ketika masa liburan tiba
selalu mengunjunginya, menghubunginya karena ia tidak dapat berkunjung pada
liburan kali ini.

Kemudian teman Sandra menasehati Sandra dengan mengatakan bahwa segala
kedukaan yang ia alami adalah jalan Tuhan untuk mendewasakannya sehingga
ia dapat bersikap lebih tenggang rasa terhadap penderitaan orang lain. “Ia
tidak tahu apa yang aku rasakan,” pikir Sandra dengan lirih.

Thanksgiving? Berterima kasih untuk apa? pikirnya. Untuk supir truk yang
ceroboh, yang menyerempet mobilnya dengan sangat keras? Untuk kantong
udara penyelamat mobil yang menyelamatkan hidupnya, tetapi mengambil hidup
bayinya?

“Selamat siang, bisa saya bantu?” secara tiba-tiba ia berhenti dari
lamunannya.

“Aku… aku membutuhkan persiapan untuk thanksgiving,” jawab Sandra
dengan gagap.

“Untuk Thanksgiving? Apakah kamu ingin suatu hal yang indah, tetapi
sederhana, ataukah kamu ingin menghadirkan situasi yang berbeda seperti
pilihan pelanggan di sini, yang kusebut sebagai ‘Thanksgiving istimewa?’
tanya penjaga toko. “Aku yakin bunga-bunga itu menceritakan sesuatu
dalam kehidupanmu,” lanjutnya. “Apakah kamu mencari sesuatu yang bisa
menyampaikan rasa terima kasihmu pada hari Thanksgiving ini?”

“Tidak juga!” celetuk Sandra. “Dalam lima bulan terakhir ini, semuanya
yang bisa menjadi buruk benar-benar menjadi buruk.”

Sandra menyesali ucapannya tadi, dan sangat terkejut ketika penjaga toko
itu berkata, “Aku telah mempersiapkan sesuatu untukmu di hari Thanksgiving
ini.”

Pada saat itu, bel pintu toko berbunyi, dan penjaga toko menyalami
seorang pelanggan yang baru saja masuk. “Hai, Barbara… tunggu sebentar yah,
aku ambilkan pesananmu.” Penjaga toko itu masuk ke dalam, menuju ruang
kerjanya, kemudian muncul kembali sambil membawa berbagai macam persiapan untuk
Thanksgiving, seperti tanaman hijau, pita-pita, dan tangkai bunga mawar
duri yang panjang. Anehnya, hanya tangkainya saja, tidak ada bunganya.

“Mau dimasukkan ke dalam kotak?” tanya penjaga toko.

Sandra mengamati reaksi pelanggan itu. Apakah ini hanya lelucon? Siapa
yang mau tangkai mawar tanpa bunganya! Ia menunggu seseorang tertawa, tetapi
wanita itu tidak tertawa.

“Iya, Tolong yah,” jawab Barbara dengan tersenyum.

“Aku kira setelah tiga tahun mengalami Thanksgiving yang istimewa, aku
tidak akan tersentuh dengan nilai dari Thanksgiving ini, tetapi aku bisa
merasakannya di sini,” ia berkata sambil menyentuh dadanya. Dan ia pergi
dengan pesanannya.

“Uh,” gumam Sandra, “wanita itu telah pergi dengan, uh… ia telah pergi
tanpa bunga!”

“Baiklah,” kata penjaga toko, “Aku akan memotong bunga itu. Itulah
Thanksgiving istimewa. Aku menyebutnya sebagai ‘Karangan Bunga Berduri
Thanksgiving’.”

“Ayolah, kau tidak bisa menyebutkan siapa yang bersedia membayar untuk
tangkai bunga seperti itu!” seru Sandra.

“Barbara datang ke toko ini tiga tahun yang lalu dengan perasaan sama
seperti yang kau alami sekarang ini,” si penjaga toko menjelaskan. “Ia
berpikir tidak perlu banyak berterima kasih kepada Tuhan. Ia telah
kehilangan ayahnya karena penyakit kanker, bisnis keluarganya juga
sedang buruk, putranya terlibat dalam masalah obat-obatan, dan ia tengah
menghadapi operasi pembedahan yang sangat serius.”

“Pada tahun yang sama, aku kehilangan suamiku,” lanjut si penjaga toko,
“dan untuk pertama kalinya dalam kehidupanku, aku menghabiskan liburan
sendirian.
Aku tidak memiliki anak, suami, kerabat dekat, dan memiliki banyak
utang.”

“Jadi apa yang kau lakukan?” tanya Sandra.

“Aku belajar untuk berterima kasih atas segala penderitaanku,” jawab
penjaga toko itu dengan pelan. “Dulu aku selalu bersyukur kepada Tuhan atas
segala hal yang baik dalam kehidupanku dan tidak pernah mempertanyakan mengapa
hal yang terbaik terjadi kepadaku. Tetapi, ketika hal yang buruk menimpaku,
aku mempertanyakan berbagai pertanyaan kepada Tuhan, aku menyalahkan Tuhan,
aku marah kepada Tuhan! Aku membutuhkan waktu lama untuk mengerti dan
mempelajari bahwa saat-saat sulit dan menderita sangatlah penting. Saat
kita menderita itulah, kita memperoleh kekuatan. Aku selalu terlena dengan
‘bunga’ kehidupanku, tetapi ternyata duri kehidupankulah yang
memperlihatkan kepadaku keindahan dari kerahiman Tuhan. Kau tahu, dalam alkitab
tertulis bahwa Tuhan selalu menghibur kita ketika kita menderita, Tuhan
memberikan kepada kita kekuatan, dan dari penghiburanNya lah kita belajar untuk
menghibur orang lain.”

Sandra mulai berpikir tentang perkataan temannya yang mencoba untuk
memberitahukan kepadanya. “Aku rasa yang benar adalah aku tidak perlu
dihibur. Aku telah kehilangan bayiku dan aku marah terhadap Tuhan.”

Pada saat itu juga seseorang masuk ke dalam toko. “Hey, Phil!” teriak
penjaga toko kepada seorang pria botak bertubuh gemuk.

“Istriku memintaku untuk mengambil pesanan Thanksgiving istimewa… dua
belas tangkai duri!” canda Phil ketika si penjaga toko menyerahkan
sebuah bungkusan persiapan Thanksgiving.

“Semuanya itu adalah untuk istrimu?” tanya Sandra ragu. “Apakah kau
keberatan jika aku bertanya mengapa ia menginginkan sesuatu seperti itu
pada hari Thanksgiving?”

“Tidak… bahkan aku sangat senang kau bertanya,” jawab Phil. “Empat
tahun lalu, aku dan istriku hampir bercerai. Setelah empat puluh tahun, kami
berada dalam keadaan yang kacau, tetapi dengan kasih Tuhan dan
bimbinganNya, kami berhasil mengatasi masalah demi masalah. Tuhan telah menyelamatkan
pernikahan kami. Jenny di sinilah (sang penjaga toko) yang mengatakan
kepadaku bahwa ia menyimpan vas bunga yang berisikan tangkai bunga mawar
untuk mengingatkan kepadanya apa yang ia pelajari dari saat-saat
‘berduri’ dalam kehidupannya, dan itu sangatlah menjelaskanku. Aku membawa
beberapa tangkai bunga mawar ke rumah. Lalu aku dan istriku memutuskan untuk
menamai setiap tangkai bunga dengan masalah yang kami hadapi, kami berusaha
untuk mengerti maksud dari masalah itu, dan ternyata duri-duri yang kami alami
itu benar-benar memberikan kekuatan kepada kami, kami berterima kasih kepada
Tuhan atas pelajaran dari masalah itu.”

Setelah Phil membayar penjaga toko itu, ia berkata kepada Sandra, “Aku
sangat menyarankan agar kau mengambil yang ‘istimewa’”

“Aku tidak mengetahui apakah aku bisa bersyukur atas duri kehidupanku,”
kata Sandra. “Semua duri itu masih sangatlah…. baru.”

“Baiklah,” jawab penjaga toko itu dengan hati-hati, “pengalamanku telah
menunjukkan kepadaku bahwa duri dalam kehidupan kita telah membuat
bunga-bunga kehidupan kita lebih berharga. Kita menyimpan anugerah Tuhan
lebih baik selama kita berada dalam masalah dibandingkan dengan
saat-saat lain. Ingat, karena mahkota duri yang Yesus kenakanlah sehingga kita
dapat mengalami kasihNya. Jangan menyesali duri-duri kehidupanmu. Duri-duri
kehidupanmu itulah yang membentukmu dan memberimu kekuatan.”

Air mata mengalir deras di pipi Sandra. Untuk pertama kalinya sejak
kecelakaan itu, ia menghilangkan duka dan penyesalannya. “Aku akan
mengambil dua belas tangkai bunga berduri, tolong yah….” ia berkata sambil
terisak-isak.

“Baiklah, aku akan menyiapkan mereka dalam beberapa menit,” jawab
penjaga toko itu dengan ramah.

“Terima kasih. Berapa semua biayanya?”

“Tidak ada. Tidak ada, yang ada hanya suatu janji bahwa kau akan
mengijinkan Tuhan untuk menyembuhkan hatimu. Biarkan aku membelikanmu barang
persiapan untuk Thanksgiving tahun pertamamu.” penjaga toko itu tersenyum dan
menyerahkan sebuah kartu kepada Sandra. “Aku selipkan kartu ini dalam
barang-barang persiapan Thanksgiving, tetapi mungkin kau ingin
membacanya terlebih dahulu.”

Di dalam kartu itu tertulis : “Tuhanku, aku belum pernah bersyukur
kepadaMu untuk semua duriku. Aku berterima kasih kepadaMu atas segala bunga
kehidupan yang kuterima, tetapi belum pernah sekalipun aku berterima kasih untuk
penderitaanku. Ajarilah aku untuk menanggung beban salibku dengan tabah,
ajarilah aku untuk menghargai nilai yang terkandung dari setiap
penderitaan atau duri yang kuhadapi. Tunjukkanlah kepadaku, bahwa lewat jalan yang
sulit, menderita, dan jalan yang penuh dengan kerikil, setiap hari aku
semakin bertambah dekat denganMu. Tunjukkanlah kepadaku, ya Tuhan, lewat
air mataku, warna pelangiMu yang sangat indah.”

Pujilah nama-Nya untuk segala bunga kehidupanmu, berterima kasihlah
kepadaNya untuk semua duri yang kau peroleh!

(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

Kebahagiaan

Thursday, October 13th, 2005

Seorang lelaki berumur 92 tahun yang mempunyai
selera tinggi,percaya diri, dan bangga akan dirinya sendiri,
yang selalu berpakaian rapi setiap hari sejak jam 8 pagi,
dengan rambutnya yang teratur rapi meskipun dia buta,
masuk ke panti jompo hari ini.

Istrinya yang berumur 70 tahun baru-baru ini meninggal,
sehingga dia harus masuk ke panti jompo.

Setelah menunggu dengan sabar selama beberapa jam di lobi,
Dia tersenyum manis ketika diberi tahu bahwa kamarnya telah siap.

Ketika dia berjalan mengikuti penunjuk jalan ke elevator,
aku menggambarkan keadaan kamarnya yang kecil,
termasuk gorden yang ada di jendela kamarnya.

Saya menyukainya, katanya dengan antusias seperti seorang
anak kecil berumur 8 tahun yang baru saja mendapatkan seekor anjing.

Pak, Anda belum melihat kamarnya, tahan dulu perkataan tersebut.

Hal itu tidak ada hubungannya, dia menjawab.

Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu putuskan di awal.
Apakah aku akan menyukai kamarku atau tidak,
tidak tergantung dari bagaimana perabotannya diatur
tapi bagaimana aku mengatur pikiranku.

Aku sudah memutuskan menyukainya. Itu adalah keputusan yang kubuat
setiap pagi ketika aku bangun tidur.

Aku punya sebuah pilihan; aku bisa menghabiskan waktu
di tempat tidur menceritakan kesulitan-kesulitan yang terjadi
padaku karena ada bagian tubuhnya yang tidak bisa berfungsi lagi,
atau turun dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian-bagian yang masih berfungsi.

Setiap hari adalah hadiah, dan selama mataku terbuka,
aku akan memusatkan perhatian pada hari yang baru dan
semua kenangan indah dan bahagia yang pernah kualami dan kusimpan.

Hanya untuk kali ini dalam hidupku.

Umur yang sudah tua adalah seperti simpanan dibank.

Kita akan mengambil dari yang telah kita simpan.

Jadi, nasehatku padamu adalah untuk menyimpan sebanyak-banyaknya
kebahagiaan di bank kenangan kita.

Terima kasih padamu yang telah mengisi bank kenanganku.
Aku sedang menyimpannya.

Ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk menjadi bahagia:

1. Bebaskan hatimu dari rasa benci.
2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekuatiran.
3. Hiduplah dengan sederhana.
4. Lebih mencintai Tuhan, diri sendiri dan sesama
5. give more, expect less

(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

Program udara bersih

Monday, October 10th, 2005

Rekan sekalian,

Perbaikan kualitas angkutan umum adalah tugas kita semua. Tapi bagaimana cara kita untuk ikut serta mengawasi kinerja angkutan umum?

Jika perduli dengan lingkungan, dan tidak mau ada asap tebal ngebul lagi dari angkutan kota, kirim sms ke nomor

0817 - 66 - 0000 – 1 (Tariff biasa Rp. 350/sms )

Caranya: tulis asap (spasi) jenis angkutan umum (spasi) nomor polisi

contoh: asap metromini B1000XY

SMS yang Anda kirimkan akan sangat berguna buat mengawasi ngontrol pencemaran lingkungan dari angkutan umum, dan hasilnya akan dikumpulkan dan disampaikan ke Dinas Perhubungan Prop. DKI Jakarta, Dewan Transportasi Kota Jakarta, Dinas/instansi terkait biar mereka segera ambil tindakan dan

Juga akan dikirim ke media untuk dipublikasikan secara berkala

Jenis angkutan:

PPD
Mayasari
Metromini
Kopaja
taxi
bajaj
dsb

Ayo , kirim SMS ke 0817-660-000-1 biar angkot kita bebas dari asap karena SMS Anda merupakan bentuk kontribusi dalam meningkatkan kinerja angkutan umum di Jakarta

PS: Mohon dapat disebarkan ke rekan-rekan lainnya. Terima kasih.

Veronica Ponda

Clean Air Project, Swisscontact

Jln. Wijaya XII No. 44

Jakarta 12160 - IND

P: 62 21 7394031

F: 62 21 7223037

W: swisscontact.org

swisscontact.or.id

5 Aturan Sederhana untuk Hidup Bahagia

Thursday, October 6th, 2005

Ingatlah lima peraturan sederhana ini untuk hidup bahagia

- Bebaskan dirimu dari kebencian
- Bebaskan pikiranmu dari kesusahan
- Hiduplah secara sederhana
- Berilah lebih
- Kurangilah harapan

Tiada seorangpun yang bisa kembali dan mulai dari awal. Setiap orang
dapat mulai saat ini dan melakukan akhir yang baru. Tuhan tidak
menjanjikan hari-hari tanpa sakit, tertawa tanpa kesedihan, matahari
tanpa hujan, tetapi Dia menjanjikan kekuatan untuk hari itu,
kebahagiaan untuk air mata, dan terang dalam perjalanan.

Kekecewaan bagai “polisi tidur”, ini akan memperlambatmu sedikit
tetapi kau selanjutnya akan menikmati jalan rata. Jangan tinggal
terlalu lama saat ada “polisi tidur”. Berjalanlah terus!

Ketika kau kecewa karena tidak memperoleh apa yang kaukehendaki,
terimalah dan bergembiralah, karena Tuhan sedang memikirkan sesuatu
yang lebih baik untuk dirimu.
Saat terjadi sesuatu padamu, baik atau buruk, pertimbangkanlah
artinya…..

Ada suatu maksud untuk setiap kejadian dalam kehidupan, mengajarmu
bagaimana lebih seringkali tertawa atau tidak terlalu keras menangis.
Kau tidak dapat memaksa seseorang mencintaimu, apa yang dapat kau
perbuat hanyalah membiarkan dirimu untuk dicintai, selebihnya ada
pada orang itu untuk menilai dirimu.

Ukuran cinta adalah saat kau mencintai tanpa batas. Dalam kehidupan
jarang akan kau temui seseorang yang kau cintai dan orang itu
mencintaimu juga. Jadi sekali kau memperoleh cinta jangan lepaskan,
ada kemungkinan cinta itu tidak datang kembali. Lebih baik kehilangan
harga dirimu kepada orang yang mencintaimu, daripada kehilangan orang
yang kau cintai karena harga dirimu.

Kita selalu membuang-buang waktu untuk mencari-cari orang yang sesuai
untuk dicintai atau melihat kesalahan2 pada orang yang telah kita
cintai, daripada malah seharusnya kita menyempurnakan cinta yang kita
berikan. Jika kau sungguh2 peduli pada seseorang, janganlah kau
mencari2 kekurangan2nya, kau jangan mencari2 alasan, kau jangan
mencari2 kesalahan2nya. Malahan, kau atasi kesalahan2 itu, kau terima
kekurangan2 itu, dan jangan kau hiraukan alasan2 itu.

Jangan pernah meninggalkan rekan lama. Kau tidak akan pernah mendapat
penggantinya. Persahabatan adalah bagai anggur, tambah lama akan
tambah baik.

(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)