Archive for September, 2005

Semestinya Kau Bahagia

Tuesday, September 27th, 2005

*To someone 8)
Semestinya Kau Bahagia
—————————-
KLA Project

Pintu hati yang kau tutup
bolehkah kubuka
Sekedar melangkah masuk
dan coba menyapa

Usah lagi kau simpan
Kecewa karna dia
Beri dirimu kesempatan
Tuk menyemai cinta

reff:
Reguklah nikmatnya
Rasakan kembali asmara
Biarlah hangatnya
Menyentuh
Menyembuhkan luka
Dan membelai jiwa

Walau nanti umpama
Kita tak berdua
Tak ada sesal kurasa
Karna kau layak bahagia

reff*

Selamat tinggal muram
Hidup indah sayang disiakan
Percayalah dukamu bukan akhir dunia
Semestinya kau bahagia

reff*

… Semestinya kau bahagia

Karakter

Monday, September 12th, 2005

Character cannot be developed in ease and quiet. Only through experiences of trial and suffering, can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired and success achieved

(Helen Keller)

(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

On My Knees

Sunday, September 11th, 2005

Written by David Mullen, Nicole Coleman Mullen and Michael Ochs

There are days when I feel
The best of me is ready to begin
Then there days when I feel
I’m letting go and soaring on the wind
But I’ve learned in laughter or
In pain
How to survive

I get on my knees
I get on my knees
There I am before the love
That changes me

See I don’t know how
But there’s power
When I’m on my knees

I can be in a crowd
Or by myself or almost anywhere
When I feel there’s a need
To talk with God He is Emmanuel
When I close my eyes
No darkness there
There’s only light

When I get on my knees
When I get on my knees
There I am before the love
That changes me

See, I don’t know how but there’s power
In the blue skies
In the midnight
When I’m on my knees

(C)1996 Seat Of The Pants Music/Word Music/ASCAP/Ochsongs Music/BMI

Akibat Mental yang Terjajah

Thursday, September 1st, 2005

Oleh Kwik Kian Gie*
Buat orang yang dapat membaca statistik dan dapat menafsirkannya, akan melemahnya rupiah sudah cukup lama di depan mata. Buat orang yang selalu gemar mengingat sesuatu yang pernah terjadi, merosotnya nilai rupiah juga bisa diprediksi. Bahwa rupiah bisa merosot sangat tajam dalam waktu sangat singkat juga pernah kita alami, yaitu ketika rupiah merosot dari sekitar Rp 2.300 menjadi Rp 16.000 per dolar AS (USD).

Maka, kalau sekarang nilai rupiah dalam waktu singkat merosot dari Rp 9.000 menjadi 11.500 ketika artikel ini ditulis, dan karena itu pemerintah cemas dan bingung, saya menjadi heran.

Mari kita bahas satu per satu. Pertama tentang apa yang dinamakan fundamental ekonomi, tetapi saya batasi pada yang relevan saja untuk nilai tukar rupiah. Kekuatan bangsa Indonesia sendiri dalam hal mempertahankan stabilitas nilai rupiahnya dilandasi oleh apakah mempunyai cadangan devisa yang cukup dan berkesinambungan. Devisa dibentuk oleh ekspor yang lebih besar daripada impor, baik barang maupun jasa. Ekspor selalu lebih kecil daripada impor kecuali tiga kali saja, yaitu di tahun-tahun 1973, 1979, dan 1980 yang disebabkan oleh oil shock pertama dan kedua.

Jadi, kalau atas dasar kekuatan sendiri, cadangan devisa selalu menyusut. Tetapi ditolong oleh masuknya modal dalam bentuk utang, dalam bentuk masuknya modal asing partikelir yang ditanamkan di Indonesia dalam berbagai bentuk. Ini untuk periode tahun 1969 sampai tahun 1999 (dua tahun terakhir prediksi Bank Dunia). Kita tahu bahwa sebelum tahun 1999, moneter sudah jebol sama sekali, sampai rentang kendali dinaikkan delapan kali, lantas dilepas secara tidak bertanggung jawab dan rupiah melejit sampai Rp 16.000 per dolar AS.

Bagaimana yang sekarang? Bukankah stabil cukup lama? Ya, lebih dari itu, setelah krisis, ekspor lebih besar daripada impor. Yang namanya transaksi berjalan surplus. Hanya surplusnya tidak disebabkan oleh kuatnya ekonomi kita, tetapi oleh anjloknya impor karena tidak ada kegiatan ekonomi yang berarti.

Ketika ekonomi mulai menggeliat, karena memang dasarnya keropos, ya langsung saja transaksi berjalan yang positif menjadi menciut. Kecuali itu, kalau dahulu ada modal masuk yang mengimbangi minusnya impor yang lebih besar daripada ekspor, sekarang terjadi pelarian modal. Bahasa birokrasinya error and omission. Kecuali di tahun 2001 yang hanya USD 714 juta, angkanya selalu minus yang berarti ada capital flight. Ketika transaksi berjalannya sudah menciut dan kecenderungannya minus lagi, modal yang ada justru dilarikan ke luar negeri oleh pemiliknya.

Jadi, kita tidak perlu heran tentang apa yang sekarang terjadi. Yang harus diherankan ialah mengapa kebijakan ekonomi yang begitu lama dalam alam kemerdekaan menghasilkan malapetaka (disaster) yang begitu hebat? Untuk itu, ada ceriteranya tersendiri. Apa itu?

Kecuali selama Gus Dur menjabat presiden RI, tim ekonomi dalam kabinet selalu dikuasai oleh para ekonom yang mutlak menghamba kepada kartel IMF dengan resep-resep dan instruksi-instruksi kepada para kroni ini yang merusak. Mereka itu terkenal dengan nama Berkeley Mafia yang dibanggakan oleh diri sendiri.

Kebijakan yang sangat merusak itu adalah menggerojokkan utang luar negeri terus-menerus sampai tidak kuat bayar tepat waktu supaya selalu menjadi pengemis buat penundaan pembayaran. Ketika itu, pemerintah Indonesia harus dicekik lehernya untuk didikte. Yang mengatakan ini bukan saya, tetapi orang-orang asing, kebanyakan orang-orang Amerika, yaitu John Pilger, Brad Sampson, Jeffrey Winters, dan John Perkins yang mengaku disuruh merusak ekonomi Indonesia. Caranya digambarkan dengan sangat jelas di dalam bukunya yang berjudul The confessions of an economic hit man.

Setelah menjelaskan ini, pertanyaannya adalah terus apa yang harus dilakukan? Buat saya, Presiden SBY harus mengambil alih kepemimpinan sepenuhnya dalam bidang ekonomi. Kedua, mengganti menteri-menteri ekonomi dengan orang-orang yang mentalnya pemimpin untuk bangsanya, bukan hamba untuk kepentingan asing. Ketiga, mengatakan kepada semua negara pemberi utang bahwa pemerintah Indonesia akan membayar dengan jadwal dan jumlah yang ditentukan sendiri atas dasar kekuatan yang memungkinkannya membela kepentingan rakyat sendiri.

Apa pun reaksi negara-negara dan lembaga-lembaga internasional itu kita hadapi, titik. Hanya itu yang bisa menolong. Bukan mengimbau, bukan mengemis-ngemis kepada investor asing supaya berinvestasi di Indonesia. Kewajiban investor asing membuat laba buat para pemegang sahamnya, bukan membela bangsa Indonesia. Yang mempunyai kewajiban membela bangsa Indonesia adalah semua pejabat eksekutif dan legislatif yang dipercaya oleh rakyat melalui pemilihan umum.

Mereka itu harus berani menjadi pemimpin yang tangguh, bukan menjadi pejabat yang menjilat negara-negara asing dan lembaga-lembaga internasional, tetapi mau menangnya sendiri dan gagah-gagahan terhadap rakyatnya sendiri! Itu saja resepnya, lain tidak ada. Coba kita buktikan, kalau apa yang saya tulis ini tidak dilakukan, dikotak-katik seperti apa pun juga, tidak akan terjadi perbaikan, kecuali atas “belas kasihan” yang tentunya tidak gratis. Biayanya sangat mahal. Baca buku John Perkins kalau mau memperoleh gambaran yang mendetail.

Akhirnya, semua elemen Berkeley Mafia harus dilibas atau dikucilkan sama sekali dari perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik. Sudah terlalu lama mereka berkuasa. Akibatnya, utang meggunung, hutan gundul, rakyat menganggur, busung lapar, dan mati karena kelaparan. Apa kurang cukup? Apa harus ada revolusi sosial dulu supaya sadar?

*** diambil dari http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=5508 ***