Archive for August, 2005

Look at positive side

Monday, August 29th, 2005

Jerry is the manager of a restaurant in America. He is always in a good mood
and always has something positive to say. When someone would ask him how he
was doing, he would always reply, “If I were any better, I would be twins!”
Many of the waiters at his restaurant quit their jobs when he changed
jobs,so they could follow him around from restaurant to restaurant.The
reason the waiters followed Jerry was because of his attitude.
He was a natural motivator. If an employee was having a bad
day, Jerry was always there, telling the employee how to look on the
positive side of the situation.
Seeing this style really made me curious, so one day I went up to Jerry and
asked him, “I don’t get it! No one can be a positive person all of the time.
How do you do it?” Jerry replied, “Each morning I wake up and say to myself,
I have two choices today.
I can choose to be in a good mood or I can choose to be in a bad mood.
I always choose to be in a good mood.
Each time something bad happens, I can choose to be a victim or I can choose
to learn from it. I always choose to learn from it.
Everytime someone comes to me complaining, I can choose to accept their
complaining or I can point out the positive side of life. I always choose
the positive side of life.”
“But it’s not always that easy,” I protested. “Yes, it is,”Jerry said
“Life is all about choices. When you cut away all the junk, every situation
is a choice. You choose how you react to situations.
You choose how people will affect your mood. You choose to be in a good mood
or bad mood. It’s your choice how you live your life.”
Several years later, I heard that Jerry accidentally did something you
are never supposed to do in the restaurant business: left the back door of
his restaurant open one morning and was robbed by three armed
men. While trying to open the safe, his hand, shaking from nervousness
slipped off the combination. The robbers panicked and shot him.
Luckily, Jerry was found quickly and rushed to the hospital. After 18
hours of surgery and weeks of intensive care, Jerry was released from the
hospital with fragments of the bullets still in his body.
I saw Jerry about six months after the accident. When I asked him how he
was, he replied, “If I were any better, I’d be twins. Want to see my scars?”
I declined to see his wounds, but did ask him what had gone through his mind
as the robbery took place.
“The first thing that went through my mind was that I should have locked the
back door,” Jerry replied. “Then, after they shot me, as I
lay on the floor, I remembered that I had twochoices: I could choose to live
or choose to die.I chose to live.”
“Weren’t you scared?” I asked. Jerry continued, “The paramedics were
great.They kept telling me. I was going to be fine. But when they
wheeled me into the Emergency Room and I saw the expressions on the
faces of the doctors and nurses, I got really scared. In their eyes, I
read’He’s a dead man.’ I knew I need to take action.”
“What did you do?” I asked. “Well, there was a big nurse shouting questions
at me,” said Jerry. “She asked if I was allergic to anything.”
‘Yes,’I replied. The doctors and nurses stopped working as they waited
for my reply. I took a deep breath and yelled, ‘Bullets!’ Over their
laughter, I told them, ‘I am choosing to live. Please operate on me as if I
am alive, not dead’.”
Jerry lived thanks to the skill of his doctors, but also because of his
amazing attitude. I learned from him that every day you have the
choice to either enjoy your life or to hate it.
The only thing that is truly yours that no one can control or take from
you-is your attitude, so if you can take care of that, everything
else in life becomes much easier.

Now you have two choices to make:
1. You can just close the browser now OR
2. You can forward it to someone you care about.
I hope you will choose #2. I did.

(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

Kisah Seorang Pemeriksa Pajak Melawan Korupsi

Sunday, August 28th, 2005

Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak
kalang kabut akibat prinsip hidup korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat
Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di kantor
gelisah dan belingsatan, kami tenang saja. Jadi sebenarnya hidup tanpa korupsi itu
menyenangkan sekali. Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih
menyenangkan. Meski orang melihat kita sepertinya sengsara, tapi sebetulnya lebih
menyenangkan. Keadaan itu paling tidak yang saya rasakan langsung.

Saya AS (maaf, belum minta ijin untuk menulis namanya secara
lengkap-alf.), lahir di Jawa Timur tahun 1970, sampai dengan SMA di Mojokerto,
kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan selesai pada
1992. Pada 17 Oktober 1992 saya menikah dan kemudian saya ditugaskan di
Medan.

Saya ketika itu mungkin termasuk generasi pertama yang mencoba
menghilangkan dan melawan arus korupsi yang sudah sangat lazim. Waktu itu
pertentangan memang sangat keras. Saya punya prinsip satu saja, karena takut pada
Allah, jangan sampai ada rezeki haram menjadi daging dalam diri dan
keturunan. Itu saja yang selalu ada dalam hati saya.

Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi untuk mengambil
arah yang jelas dan tidak menikmati sedikitpun harta yang haram. Syukurlah,
prinsip itu bisa didukung keluarga, karena isteri juga aktif dalam
pengajian keislaman. Sejak awal ketika menikah, saya sampaikan kepada
isteri bahwa saya pegawai negeri di Departemen Keuangan, meski imej
banyak orang, pegawai Departemen Keuangan kaya, tapi sebenarnya tidak begitu.
Gaji saya hanya sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa korupsi,
ayo. Kalau tidak mau, ya sudah tidak jadi. Dari awal saya sudah berusaha
menanamkan komitmen kami seperti itu. Saya juga sering ingatkan kepada
isteri, bahwa kalau kita konsisten dengan jalan yang kita pilih ini,
pada saat kita membutuhkan maka Allah akan selesaikan kebutuhan itu. Jadi
yg penting usaha dan konsistensi kita. Saya juga suka mengulang beberapa
kejadian yg kami alami selama menjalankan prinsip hidup seperti ini
kepada istri. Bahwa yg penting bagi kita adalah cukup dan berkahnya, bahwa
kita bisa menjalani hidup layak. Bukan berlebih seperti memiliki rumah dan
mobil mewah.

Menjalani prinsip seperti ini jelas banyak ujiannya. Di mata keluarga
besar misalnya, orang tua saya juga sebenarnya mengikuti logika umum bahwa
orang pajak pasti kaya. Sehingga mereka biasa meminta kami membantu
adik-adik dan keluarga. Tapi kami berusaha menjelaskan bahwa kondisi kami berbeda
dengan imej dan anggapan orang. Proses memberi pemahaman seperti ini pada
keluarga sulit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sampai akhirnya pernah
mereka berkunjung ke rumah saya di Medan, saat itulah mereka baru mengetahui
dan melihat bagaimana kondisi keluarga saya, barulah perlahan-lahan mereka
bisa memahami.

Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau
pemeriksa pajak. Kalau dibandingkan teman-teman seangkatan sebenarnya
karir saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun.
Seharusnya paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi sekarang baru
Eselon V. Apalagi dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak
menerima uang korupsi sama saja dengan karir terhambat. Karena saya dianggap
tidak cocok dengan atasan, maka kondite saya di mata mereka buruk. Terutama
poin ketaatannya, dianggap tidak baik dan jatuh.

Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu. Antara
lain, orang orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha mencari
kawan apa pun caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan atau apa pun akan mereka
lakukan agar mereka mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya tidak
ingin ada orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak seperti
mereka.

Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan
cara paling halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan,
setelah sekian tahun barulah ketahuan, kita sudah dikhianati. Cara seperti ini
seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati.
Mereka dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, bahwa
seperti inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan. Bila tidak berhasil,
mereka akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa saja
dipakai, sampai mereka bisa merangkul orang itu menjadi teman.

Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia
sangat simpatik di mata saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau bermain
ke rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian menjadi seperti
sahabat, bahkan seperti keluarga sendiri. Di akhir pekan, kami biasa memancing
sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga. Dan ketika pulang, dia
biasa juga menitipkan uang dalam amplop pada anak-anak saya. Saya sendiri
menganggap pemberian itu hanya hadiah saja, berapalah hadiah yang
diberikan kepada anak-anak. Tidak terlalu saya perhatikan. Apalagi dalam proses
pertemanan itu kami sedikit saja berbicara tentang pekerjaan. Dan dia
juga sering datang menjemput ke rumah, mangajak mancing atau ke toko buku
sambil membawa anak-anak.

Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah
perusahaan besar. Dari hasil pemeriksaan itu saya menemukan penyimpangan sangat
besar dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu itu, atasan melakukan pendekatan
pada saya dengan cara paling halus. Dia mengatakan, kalau semua penyimpangan
ini kita ungkapkan, maka perusahaan itu bangkrut dan banyak pegawai yang
di-PHK. Karena itu, dia menganggap efek pembuktian penyimpangan itu justru
menyebabkan masyarakat rugi. Sementara dari sisi pandang saya, betapa
tidak adilnya kalau tidak mengungkap temuan itu. Karena sebelumnya ada yang
melakukan penyimpangan dan kami ungkapkan. Berarti ada pembedaan.
Jadwal penagihannya pun sama seperti perusahaan lain.

Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai
logika lain lagi. Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan
dirundingkan dengan klien, agar bisa membayar pajak dan negara untung,
karena ada uang yang masuk negara. Logika seperti ini juga tidak bisa
saya terima. Waktu itu, saya satu-satunya anggota tim yang menolak dan
meminta agar temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski saya juga sadar,
kalau saya tidak menanda tangani hasil laporan itu pun, laporan itu akan
tetap sah. Tapi saya merasa teman-teman itu sangat tidak ingin semua tidak
sepakat dan sama seperti mereka. Mereka ingin semua sepakat dan sama
seperti mereka. Paling tidak menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya
dipanggil oleh atasan dan disidang di depan kepala kantor. Dan ini yang amat
berkesan sampai sekarang, bahwa upaya mereka untuk menjadikan orang lain tidak
bersih memang direncanakan.

Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah lama bersahabat
dan seperti keluarga sendiri dengan saya itu mengatakan, ” Sudahlah, Dik
Arif tidak usah munafik.” Saya katakan, “Tidak munafik bagaimana Pak? Selama
ini saya insya Allah konsisten untuk tidak melakukan korupsi.” Kemudian ia
sampaikan terus terang bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia
berikan pada anak saya adalah uang dari klien. Ketika mendengar itu,
saya sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata berkhianat.
Karena terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat seperti
itu, kecuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip untuk menolak uang
suap. Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu persis bahwa
mereka perlahan lahan menggiring ke arah yang mereka mau.

Ketika merasa terpukul dan tidak bisa membalas dengan kata-kata apapun,
saya pulang. Saya menangis dan menceritakan masalah itu pada isteri saya di
rumah. Ketika mendengar cerita saya itu, isteri langsung sujud syukur.
Ia lalu mengatakan, “Alhamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah saya
pakai,” katanya. Ternyata di luar pengatahuan saya, alhamdulillah,
amplop-amplop itu tidak digunakan sedikit pun oleh isteri saya untuk
keperluan apapun. Jadi amplop-amplop itu disimpan di sebuah tempat,
meski ia sama sekali tidak tahu apa status uang itu. Amplop-amplop itu semuanya
masih utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka. Jumlahnya
berapa saya juga tidak tahu. Yang jelas, bukan lagi puluhan juta.
Karena sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap pekan.

Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan saya
bawa ke kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan kepala seksi.
Dalam forum itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya hingga
bertaburan di lantai. Saya katakan, “Makan uang itu, satu rupiah pun
saya tidak pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak pernah
percaya satu pun perkataan kalian.” Mereka tidak bisa bicara apapun karena
fakta obyektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. Tapi
esok harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya di auditor,
lantas saya diletakkan di arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan
pemeriksa pajak. Itu berjalan sampai sekarang.

Ketika melawan arus yang kuat, tentu saja ada saat tarik-menarik dalam
hati dan konflik batin. Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas.
Tapi alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menggunakan
uang yang tidak jelas. Ada pengalaman lain yang masih saya ingat sampai
sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitu mendesak. Misalnya, ketika
anak kedua lahir. Saat itu persis ketika saya membayar kontrak rumah dan
tabungan saya habis. Sampai detik-detik terakhir harus membayar uang rumah sakit
untuk membawa isteri dan bayi kami ke rumah, saya tidak punya uang
serupiah pun.

Saya mau bicara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insya
Allah pekan depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga.
Akhirnya saya keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang dari
sholat dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit itu.
Sebelumnya kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita dari teman bahwa
isteri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke umah sakit.
Wallahu alam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya atau bagaimana, tetapi
ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah sakit, saya
malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan isteri yang sudah lunas.
Alhamdulillah.

Ada lagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata karena
ada lipoma yang arus diangkat. Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi karena
pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan karena
anak saya baru berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi. Saya ke
Rumah Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu saya
lakukan sambil tetap berfikir, nanti uangnya pinjam dari mana?

Ketika anak harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling
susah sekali menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata Allah
cukupkan kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang membereskan
pakaian di rumah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan
seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar, dan saya
ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia katakan, “Kenapa tidak
bilang-bilang?” Saya sampaikan karena tidak sempat saja. Setelah teman
itu pulang, ketika ingin menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata
kwitansinya juga sudah dilunasi oleh teman itu. Alhamdulillah.

Saya berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada tekanan
keluarga besar, di luar keluarga inti saya. Karena ada teman yang
tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga.
Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit, mereka terpaksa pinjam sana
sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga. Karena
banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu, saya
berusaha dari awal tidak demikian. Saya berusaha cari usaha lain, dengan
mengajar dan sebagainya. Isteri saya juga bekerja sebagai guru.

Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih banyak
dengan bercanda. Sedangkan pendekatan serius, sebenarnya mereka sudah
puas dengan pendekatan itu, tapi tidak berubah. Dengan pendekatan bercanda,
misalnya ketika datang tim pemeriksa dari BPK, BPKP, atau Irjen. Mereka
gelisah sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi mereka
dapat suap lalu menyuap lagi. Seperti rantai makanan. Siapa memakan siapa.
Uang yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi. Mereka
selalu takut ini takut itu. Paling sering saya hanya mengatakan dengan
bercanda, “Uang setan ya dimakan hantu.”

Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, kemudian
berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali. Harta mereka jual dan diberikan
kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak. Sedikit sekali orang
yang bisa merubah gaya hidup yang semula mewah lalu tiba-tiba miskin. Itu
sulit sekali. Ada juga diantara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak
pernah memeras dan tidak memakan uang korupsi secara langsung. Tapi hanya
menerima uang dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu
hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu bertanya uang itu dari mana.
Padahal sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak
akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu. Atasan yang memberikan itu
berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi uang hari Jumat
atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang Jumatan. Atasan yang
berikutnya lagi pada momen berikutnya memberi juga. Kalau atasan yang lebih tinggi
lagi biasanya memberi menjelang lebaran dan sebagainya. Kalau
dihitung-hitung sebenarnya lebih besar uang dari atasan dibanding gaji bulanan.

Orang-orang yang menerima uang seperti ini yang sulit berubah. Mereka
termasuk rajin sholat, puasa sunnah dan membaca Al-Qur’an. Tetapi
mereka sulit berubah. Ternyata hidup dengan korupsi memang membuat sengsara.
Di antara teman-teman yang korupsi, ada juga yang akhirnya dipecat, ada
yang melarikan diri karena dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya
selingkuh dan lain-lain. Meski secara ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya
sekadar mapan.

Yang sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di
STAN. Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika
keluarganya mulai sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan
keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang. Akhirnya
ia mencoba hutang sana-sini. Diapun terjebak dan merasa sudah terlanjur
jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di kantor. Bahkan
sampai sholat ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap polisi ketika sedang
mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. Teman itu sekarang
dipecat dan dipenjara.

Saya berharap akan makin banyak orang yang melakukan jihad untuk hidup
yang bersih. Kita harus bisa menjadi pelopor dan teladan dimana saja. Kiatnya
hanya satu, terus menerus menumbuhkan rasa takut menggunakan dan
memakan uang haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari hasil rejeki yang
haram. Saya berharap, mudah-mudahan Allah tetap memberikan pada kami
keistiqomahan - keteguhan hati, red - (matanya berkaca-kaca).

(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

ATMOSPHERE OF LIFE

Tuesday, August 23rd, 2005

Sore itu disebuah subway di kota New York, suasana cukup sepi. Kereta api bawah tanah itu cukup padat oleh orang-orang yang baru pulang kerja.

Tiba-tiba, suara hening terganggu oleh ulah dua orang bocah kecil berumur sekitar 3 dan 5 tahun yang berlarian kesana kemari. Mereka berdua mulai mengganggu penumpang lain.

Yang kecil mulai menarik-narik koran yang sedang dibaca oleh seorang penumpang, kadang merebut pena ataupun buku penumpang yang lain. Si kakak sengaja berlari dan menabrak kaki beberapa
penumpang yang berdiri menggantung karena penuhnya gerbong itu.

Beberapa penumpang mulai terganggu oleh ulah kedua bocah nakal itu, dan beberapa orang mulai menegur bapak dari kedua anak tersebut. “Pak, tolong dong anaknya dijaga!” pinta salah seorang penumpang. Bapak kedua anak itu memanggil dan menenangkannya. Suasana kembali hening,
dan kedua anak itu duduk diam.

Tak lama kemudian, keduanya mulai bertingkah seperti semula, bahkan semakin nakal. Apabila sekali diusilin masih diam saja, kedua anak itu makin berani. Bahkan ada yang korannya sedang dibaca, langsung saja ditarik dan dibawa lari. Bila si-empunya koran tidak bereaksi, koran itu mulai dirobek-robek dan diinjak-injak. Beberapa penumpang mulai menegur sang ayah lagi dengan nada mulai kesal. Mereka benar-benar merasa terganggu, apalagi suasana pulang kerja, mereka masih sangat lelah.

Sang ayah memanggil kembali kedua anaknya, dan keduanya mulai diam lagi. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Si anak mulai membuat ulah yang semakin membuat para penumpang di gerbong bawah tanah itu mulai marah. Beberapa penumpang mulai memarahi sang ayah dan membentak. “Pak, bisa mendidik anak tidak sich!” kata seorang penumpang dengan geram. “Dari tadi anaknya mengganggu semua orang disini, tapi bapak koq diam saja”.

Sang ayah bangkit dari duduknya, menghampiri kedua anaknya yang masih mungil, menenangkannya,dan dengan sangat sopan berdiri dan berkata kepada para penumpang yang ada di gerbong itu.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu semua, mohon maaf atas kelakuan kedua anak saya ini. Tidak biasanya mereka berdua bertingkah nakal seperti saat ini. Tadi pagi, kedua anak saya ini baru saja ditinggal oleh ibu mereka yang sangat mereka cintai. Ibu kedua anak saya ini meninggal karena penyakit leukimia
yang dideritanya”.

Bapak itu diam sejenak…. , dan sambil mengelus kepala kedua anaknya meneruskan ceritanya.

“Mungkin karena kejadian yang menimpa ibu mereka berdua itu begitu mendadak, membuat kedua anak saya ini belum bisa menerima kenyataan dan agak sedikit shock karenanya. Sekali lagi saya mohon
maaf”.

Seluruh orang didalam gerbong kereta api bawah tanah itu seketika terdiam.

Mereka dengan tiba-tiba berubah total, dari memandang dengan perasaan kesal karena kenakalannya, berubah menjadi perasaan iba dan sayang. Kedua anak itu masih tetap nakal, mengganggu seluruh
penumpang yang ditemuinya.

Tetapi, orang yang diganggu malah kelihatan tambah menampakkan kasih sayangnya. Ada yang memberinya coklat, bahkan ada yang menemaninya bermain.

PERHATIKAN KONDISI SUBWAY ITU!!!
PENUMPANGNYA MASIH SAMA!!!
KEDUA ANAK ITU MASIH NAKAL-NAKAL!!!
Tetapi terjadi perubahan yang sangat mencolok.
SUASANA DIDALAM SUBWAY ITU BERUBAH 180 DERAJAT.

KENAPA ?…. KARENA SEBUAH INFORMASI…

Begitu pentingnya sebuah INFORMASI KECIL
… bisa merubah semua ‘ATMOSPHERE’ lingkungan kita.

Seringkali kita salah paham dengan teman/sahabat kita, karena kita tidak mengetahui sebuah INFORMASI KECIL tsb… dan hal tersebut akan membuat ‘ATMOSPHERE’ yang buruk dengan teman kita,

Mungkin kita pernah berprasangka buruk pada teman kita…
karena kita tidak mengetahui INFORMASI YANG SEBENARNYA!! That’s the POINT !!!

“The Truth Is Out There, You Have To Find It..’coz The Truth Can Change The Atmosphere of Life”

(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

Kukatakan dengan indah

Sunday, August 14th, 2005

PETERPAN - Kukatakan Dengan Indah

Intro: D
D Bm G D

D Bm
Ku katakan indah dengan terbuka hatiku hampa
G D
Sepertinya luka menghampirinya
D Bm
Kau beri rasa yang berbeda mungkin ku salah…
G D
Mengartikannya yang ku rasa cinta

(*) G D
Tetapi hatiku selalu meninggikanmu
G A
Terlalu meninggikanmu, selalu meninggikanmu

G D G D
Kau hancurkan hatiku, hancurkan lagi
G D Bm A
Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu
G D G D
Kau terangi jiwaku, kau redupkan lagi
G D Bm A
Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu

Int: D Bm G D

Kembali ke: (*)

D
Membuatku terjatuh dan terjatuh lagi
Bm
Membuatku merasakan yang t’lah terjadi
G
Semua yang terbaik dan yang terlewati
A
Semua yang terhenti tanpa ku akhiri

D
Membuatku terjatuh dan terjatuh lagi
Bm
Membuatku merasakan yang t’lah terjadi
G
Semua yang terbaik dan yang terlewati
A
Semua yang terhenti tanpa ku akhiri

Int: Em D G A

Kembali ke: (*)

G D G D
Kau hancurkan hatiku tak tertahan lagi
G D Bm A
Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu
G D G D
Kau terangi jiwaku kau redupkan lagi
G D Bm A
Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu

G D G D
Kau hancurkan hatiku, hancurkan lagi
G D Bm A
Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu
G D G D
Kau terangi jiwaku, kau redupkan lagi
G D Bm A
Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu

G D G D
Kau hancurkan hatiku, hancurkan lagi
G D Bm A
Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu
G D G D
Kau hancurkan hatiku, hancurkan lagi
G D Bm D
Kau hancurkan hatiku, hancurkan lagi
G D Bm A
Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu
G D G D G D Bm A
Oooo…ooo…ooo…ooo…melihatmu

Coda: G D G D G D Bm A

Seven Karimunjawa Islands for sale

Wednesday, August 3rd, 2005

siapa nih yang mau beli ?

kacau nih, pulau aja dijual, gimana nasib rakyatnya ya ?

Seven Karimunjawa Islands for sale,
Indonesia

Presented for sale for the first time, a fabulous group of seven islands in the Java Sea in Indonesia, 600 km north west of Bali, just under six degrees off the equator, and 130 km north of Semarang which has just become an international airport with daily flights to the main island of Karimunjawa - a short distance by boat or sea plane to these virgin islands. The islands are protected by land mass on all sides and the weather is calm and consistent all year round.

DIVING

Five of the islands have been designated a national marine park - the coral reefs are some of the best in the world and divers have nominated the islands the fifth top spot in the world.

DEVELOPMENT POSSIBILITIES

These islands have never been presented for sale before. The Indonesian Government welcomes foreign investment and they represent a heavenly blank canvas for anyone wanting that perfect hideaway retreat. All seven islands have permission for development - the five islands in the national park have permission to built up to the height of the treetops, while the two largest islands have no building restrictions whatsoever and can be developed either residentially or commercially. Building over the water is permitted on all islands.

PRICE

The price (available on request) is about a quarter of the value of equivalent land on Bali, and therefore a fantastic capital investment. The islands may be sold in smaller lots, with price on request.

It is rare to find for sale a cluster of islands such as this which are so beautiful and untouched - we welcome enquiries from private buyers or commercial developers.

Development and planning

All seven islands have permission for development. The largest of the seven islands, Bengkoang and Geleang are outside of the Karimunjawa National Marine Park and have no construction restrictions. These permits are presently being processed by the Indonesian Land Department.

The five islands inside the national park area are permitted to have wooden buildings constructed on concrete foundations up to tree height and in keeping with the area. Stilt cabin construction over the water is permitted up to the reef edge.

The owner is overseeing all documentation and permits for the islands.

Karimunjawa has been allocated redevelopment finance from the Indonesian government for extending the islands airport, modify the harbour, existing gsm telephone network, upgrade roads, increase electric supply and vitalise the islands infrastructure and education.

sumber:
http://varealestate.co.uk/indonesia/index.html
http://varealestate.co.uk/indonesia/development_planning.html