Archive for June, 2005

Goresan Mobil yang tak terlupakan

Wednesday, June 29th, 2005

Tersebutlah seorang pengusaha muda dan
kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah,
sebuah Jaguar yang mengkilap.
Kini, sang pengusaha, sedang menikmati
perjalanannya dengan mobil baru itu.
Dengan kecepatan penuh, dipacunya
kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga
sekitar dengan penuh rasa bangga dan
prestise.

Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang
sedang bermain sambil melempar sesuatu.
Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak
terlalu diperhatikannya anak-anak itu.

Tiba-tiba, dia melihat seseorang anak kecil
yang melintas dari arah mobil-mobil yang di
parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak yang
tampak melintas sebelumnya.

“Buk….!” Aah…, ternyata, ada sebuah batu
seukuran kepalan tangan yang menimpa
Jaguar itu yang dilemparkan si anak itu.

Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu
yang dilontarkan seseorang. “Cittt….”
ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan
geram, dimundurkannya mobil itu menuju
tempat arah batu itu di lemparkan.

Jaguar yang tergores, bukanlah perkara
sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan
oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha
dalam hati. Amarahnya memuncak.

Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa.
Di tariknya anak yang dia tahu telah
melempar batu ke mobilnya, dan
dipojokkannya anak itu pada sebuah mobil
yang diparkir.

“Apa yang telah kau lakukan!? Lihat
perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!”
Lihat goresan itu”, teriaknya sambil menunjuk
goresan di sisi pintu.
“Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini
akan butuh banyak ongkos di bengkel untuk
memperbaikinya. “Ujarnya lagi dengan kesal
dan geram, tampak ingin memukul anak itu.

Si anak tampak menggigil ketakutan dan
pucat, dan berusaha meminta maaf.

“Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta
maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus
melakukan apa. “Air mukanya tampak ngeri,
dan tangannya bermohon ampun.

“Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena
tak ada seorang pun yang mau berhenti….”

Dengan air mata yang mulai berjatuhan di
pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu
arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi.

“Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia
tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Saya
tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi
tak seorang pun yang mau menolongku.
Badannya tak mampu kupapah, dan
sekarang dia sedang kesakitan..” Kini, ia
mulai terisak.

Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya
berharap pada wajah yang mulai tercenung
itu.

“Maukah Bapak membantuku
mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah,
kakakku terluka, tapi saya tak sanggup
mengangkatnya.”

Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha
muda itu terdiam. Amarahnya mulai sedikit
reda setelah dia melihat seorang lelaki yang
tergeletak yang sedang mengerang
kesakitan.

Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu
menelan ludah. Segera dia berjalan menuju
lelaki tersebut, diangkatnya si cacat itu
menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya
sapu tangan mahal miliknya, untuk
mengusap luka di lutut yang memar dan
tergores, seperti sisi pintu Jaguar
kesayangannya.

Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun
berterima kasih, dan mengatakan bahwa
mereka akan baik-baik saja.

“Terima kasih, dan semoga Tuhan akan
membalas perbuatan Bapak.”

Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan
pengusaha yang masih nanar menatap
kepergian mereka. Matanya terus mengikuti
langkah sang anak yang mendorong kursi
roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah
mereka. Berbalik arah, pengusaha tadi
berjalan sangat perlahan menuju Jaguar
miliknya. Dtelusurinya pintu Jaguar barunya
yang telah tergores itu oleh lemparan batu
tersebut, sambil merenungkan kejadian yang
baru saja di lewatinya. Kerusakan yang
dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi
pengalaman tadi menghentakkan perasaannya.

Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini.

Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat:

“Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”

Teman, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu untuk tetap berjalan.

Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan.

Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat, sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar?

Tuhan, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita.

Kadang, kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap ujaran-Nya.

Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu hidup dengan
penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas.

Teman, kadang memang, ada yang akan “melemparkan batu” buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak.

Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita.

(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

Blok Cepu, ExxonMobile & strategi besar Pertamina

Friday, June 24th, 2005

Keputusan tentang apa yang harus dilakukan terhadap sumur minyak di Blok Cepu yang sekarang digarap ExxonMobile (EM) antara sukar dan mudah.Orang Jawa mengatakan gampang-gampang angel. Gampang kalau bangsa ini berpijak pada landasan falsafah dan prinsip. Angel kalau bangsa ini menjerumuskan diri pada teknokrasi semata.

Asal mulanya Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto), pemegang izin eksploitasi minyak di sumur “kecil” di Cepu, menjual lisensinya kepada EM. Lisensi itu sebenarnya baru berakhir pada 2010. EM lalu mengeluarkan uang sebesar US$370 juta untuk mengeksplorasi sumur tersebut. Dari hasil eksplorasi itu, EM menemukan cadangan minyak sekitar 600 juta barel.

Karena cadangan itu besar, EM mengajukan usul agar kontraknya dengan Indonesia diperpanjang sampai 2030. Usul ini tentu disertai dengan deal bisnis yang rinci. Ketika itu, status hukum Pertamina masih berupa Perum. Menurut undang-undang yang berlaku, yang berhak mengambil keputusan adalah Dewan Komisaris Pemerintah untuk Pertamina (DKPP) yang terdiri dari lima orang menteri. Tiga dari lima anggota DKPP setuju, sedangkan dua lainnya tidak setuju memperpanjang kontrak dengan EM. Karena tidak dicapai keputusan yang bulat, berdasarkan undang-undang, keputusan harus diambil oleh
Presiden.

Maka “bola panas” pindah ke tangan Presiden Megawati Soekarnoputri. EM tidak tinggal diam. Perusahaan AS itu mengerahkan semua kekuatan, termasuk pemerintahnya untuk melobi keras kepada pemerintah Indonesia. Namun bagi penulis, upaya EM sudah merupakan “tekanan” agar Indonesia mau memperpanjang kontrak tersebut.

Di tengah lobi dan perundingan berjalan, tersiar kabar, entah kabar burung atau tidak, bahwa cadangan minyak yang sebenarnya di Blok Cepu adalah 1,2 miliar barel, bukan 600 juta barel. Belakangan beredar lagi kabar bahwa cadangan minyak di blok itu bahkan bisa mencapai 2 miliar barel.

Seperti dikatakan sebelumnya, ada dua anggota DKPP yang tidak setuju. Yang satu atas dasar alasan yuridis bahwa bentuk kerja sama adalah Technical Assistance Contract (TAC), sehingga tidak bisa lantas diubah menjadi kontrak bagi hasil. Anggota lain, yang tidak setuju, adalah penulis dengan alasan yang sama sekali berbeda. Alasan sangat prinsipil Alasan penulis saat itu sangat prinsipil, yaitu bahwa sumur di Blok Cepu memiliki cadangan minyak yang besar dengan letak yang strategis, sehingga eksploitasi selanjutnya relatif mudah. Maka penulis mati-matian mempertahankan agar blok itu sepenuhnya dieksploitasi oleh Pertamina.

Berbagai alasan dikemukakan untuk meyakinkan penulis agar ikut menyetujui perpanjangan kontrak dengan EM. Upaya tersebut datang dari berbagai pihak, baik Pertamina dan Lemigas maupun EM dan Duta Besar AS untuk Indonesia Ralph Boyce.

Semua alasan penulis tolak. Ini karena titik tolak penulis sangat prinsipil bahwa Pertamina harus menggunakan sumur Cepu sebagai titik tolak untuk belajar mengeksploitasi minyak sendiri sepenuhnya. Kata “belajar” ditekankan karena penulis dihujani berbgai perhitungan rugi laba, penuh dengan angka-angka yang njlimet. Namun penulis sama sekali tidak mau melihat angka-angka tersebut. Berapa pun untung ruginya, penulis terima. Ini karena bagi penulis sudah sangat memalukan setelah 60 tahun merdeka, 92% dari minyak nasional dieksploitasi oleh kontraktor asing.

Dikemukakan bahwa Pertamina tidak mungkin membiayai eksploitasi sendiri. Penulis yakinkan bahwa kalau ada cadangan minyak 600 juta barel saja, bank di seluruh dunia akan antre memberikan kredit yang khusus dipakai untuk mengeksploitasi sumur tersebut. Apalagi kalau cadangannya ternyata lebih besar lagi. Penulis lalu diyakinkan lagi dengan alasan bahwa kalau Pertamina yang mengeksploitasi sendiri, akan merugi karena belum berpengalaman dan korup. Upaya ini pun penulis tolak dengan alasan bahwa penulis sama sekali tidak berpikir tentang untung rugi. Sumur Cepu harus dijadikan modal untuk belajar mengeksploitasi sendiri.

Landasan argumentasi adalah paparan direksi baru, dipimpinan Baihaki Hakim, kepada penulis selaku Menko Ekuin dalam kabinet Presiden Abdurrahman Wahid. Pendirian yang penulis pertahankan sampai sekarang merupakan pengarahan dari Presiden Wahid. Ketika itu Baihaki Hakim mengemukakan bahwa visi dan misinya adalah menjadikan Pertamina sebuah world class company yang harus mampu mengembangkan diri menjadi perusahaan multinasional seperti halnya BP, Shell, EM, dan sebagainya. Tekad Baihaki itu bukan untuk gagah-gagahan tetapi karena alasan survival. Pertamina sudah telanjur menjadi organisasi besar, sedangkan cadangan minyak terus menyusut, selain minyak adalah sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui (non renewable resource). Maka kalau cadangan sudah menyusut menjadi demikian kecil, Pertamina sudah harus menjadi perusahaan multinasional yang besar sehingga sumber minyak mentahnya diperoleh dari mana saja. Kalau tidak, mau diapakan organisasi Pertamina dengan cadangan minyak yang sudah habis atau sudah demikian kecil itu? Itulah sebabnya Presiden Wahid memerintahkan penulis mengambil risiko agar Pertamina menanamkan modalnya untuk eksplorasi di mana saja. Penulis berpesan wanti-wanti agar perhitungannya sangat matang sehingga risiko yang diambil betul-betul adalah well calculated risk.

Penulis percaya betul bahwa Baihaki dapat melakukannya mengingat pengalamannya sebagai Dirut yang begitu lama di Caltex, kontraktor terbesar di Indonesia. Kecuali itu, diam-diam penulis minta nasehat dari Julius Tahija, yang dengan susah payah melayani penulis meski kesehatannya sebenarnya sudah tidak memungkinkan lagi.

Bukan Inlander
Penulis kemudian didatangi oleh Executive Vice President EM yang khusus terbang dari Houston, AS. Dia mencoba meyakinkan penulis. Penulis hanya menjawab: “Please, bolehkah saya belajar menjadi perusahaan seperti Anda di tanah air saya sendiri, menggunakan sumber daya alam saya sendiri? Apakah ExxonMobile, ketika mulai dari nol, tidak mengambil risiko besar yang sekarang Anda gambarkan kepada saya sebagai sesuatu yang menakutkan? Saya bukan Inlander seperti rekan-rekan saya yang Anda temui sebelumnya.”

Penulis mengatakan kalimat terakhir itu karena dia mengatakan sebenarnya sudah sangat lama dia ingin bertemu saya. Tetapi hampir semua menteri yang ditemuinya menganjurkan agar jangan sekali-kali menemui penulis. Ketika itu penulis memang sangat emosional, marah, sehingga bersikap semakin keras. Siapa yang tidak marah ketika mengetahui bahwa dia ternyata dikhianati oleh sesama abdi negara untuk kepentingan asing?

Maka ketika itu penulis ceriterakan panjang lebar tentang sikap Bung Karno yang sengaja sangat-sangat membatasi eksploitasi sumber daya alam oleh asing yang memang secara mutlak diperlukan. Yang lainnya, “kita simpan di bawah tanah sampai para insinyur kita mampu menggarapnya sendiri.” Demikian yang dikatakan Bung Karno kepada putrinya, Megawati Soekarnoputri, yang masih berusia sekitar 16 tahun. Kepada penulis juga dikatakan bahwa mereka tidak bisa mengerti bagaimana mungkin penulis begitu tidak rasional, sementara berpendidikan di Barat. Dengan sabar penulis jelaskan bahwa justru karena sekian lama berada di Eropa, justru demikian banyak kawan yang menjadi pemimpin di Eropa, maka penulis dapat bercerita panjang lebar mengenai banyak orang Eropa, seperti manusia unggul lainnya, tidak hanya hidup dari rasio. Terlampau panjang kalau diuraikan di sini. Cukup penulis kemukakan bahwa tidak sembarangan berkembangnya apa yang dinamakan Emotional Intelligence, bukan hanya IQ. Bung Karno yang sangat menyerap budaya Barat juga mengatakan bahwa man does not live by bread alone.

Juga dikemukakan bahwa elit bangsa Indonesia korup, demikian juga Pertamina, sehingga akan rugi besar bila sumur Cepu dieksploitasi Pertamina. Penulis kemukakan bahwa taruhan bagi bangsa Indonesia bukan karena korupsi kemudian menyerahkan segalanya kepada asing. Tetapi pilihan yang dihadapi bangsa ini adalah dapat mengatasi semua kesulitan, termasuk masalah korupsi atau mati.

Pendirian Bung Karno
Penulis lalu kemukakan sebagai referensi pendirian Bung Karno yang juga ditawari Belanda menunda kemerdekaan Indonesia agar penjajah bisa mengajari bagaimana mengurus negara bangsa sambil memberikan bantuan uang. Kalau ingin mengetahui jawaban Bung Karno, mohon baca pidatonya pada 1 Juni 1945 yang terkenal dengan “Lahirnya Pancasila,” mumpung bangsa ini akan memperingati tanggal tersebut. Referensi lainnya adalah bagian dari pleidooi Bung Hatta di depan pengadilan Den Haag, Belanda, pada 1932.

Dalam perdebatan sidang pengadilan itu, majelis hakim antara lain mempertanyakan apakah bangsa Indonesia mampu mengurus diri sendiri dalam alam kemerdekaan yang dikehendaki Bung Hatta bersama para mahasiswa Indonesia yang bergabung dalam Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda? Bung Hatta mengatakan: “Saya lebih suka melihat seluruh kepulauan Nusantara lenyap tenggelam di bawah laut daripada dijajah oleh Tuan-Tuan sekalian.”
Kebetulan bagian dari pleidooi ini diucapkan pada akhir pembelaannya. Majelis hakim lalu memvonnis Bung Hatta bebas murni. Di Nederland, Bung Hatta divonis bebas murni tetapi di Nederlands Indie (Hindia Belanda), dengan alasan yang sama, tiga tahun sebelumnya Bung Karno divonis dibuang dan dipenjara. Haruskah bangsa Indonesia sampai sekarang masih berjiwa terjajah setelah 60 tahun merdeka? Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang terhormat, please, penulis memohon agar jangan sampai dituruti apa yang dilakukan oleh Rizal Malarangeng selaku chief negotiator dengan ExxonMobile yang didampingi oleh Lin Che Wei. Sekitar tanggal 20 atau 21 Mei malam penulis menyaksikan kedua pejabat itu memberi keterangan di MetroTV bahwa Indonesia akan memperpanjang kontrak dengan ExxonMobile sampai tahun 2030 sebagai hasil negosiasi dengan Indonesia yang diwakili mereka.

Komentar Kwik Kian Gie lainnya :
Sayapun sebenarnya heran juga . kenapa kita tidak berani melakukan eksplorasi dan eksploitasi sendiri minyak bumi di negeri ini. Kalo itu disimpan di perut bumi sih masih mending. lha ini… malah diserahkan ke fihak asing, kontraknya mencapai 20 - 30 tahun. Begitu kontrak habis… ya .. habislah minyaknya. Padahal dalam kenyataannya… untuk eksplorasi dan eksploitasi itu..(biasanya dalam bentuk joint operating body)… semua biaya nantinya akan di “charge” ke pemerintah c.q. Pertamina… sedangkan fihak asing itu akan mendapat bagi hasil 30%. Khabar terakhir yang saya dengar (CMIIW) prosentase ini akan diubah menjadi 40 : 60. Walhasil…hanya seberapa yang bisa dinikmati bangsa ini ? belum lagi yang dikorupsi.

Mungkin kita perlu banyak belajar sama China. Ketika saya punya kesempatan berkunjung ke sana, saya tidak melihat eksploitasi dan eksplorasi yang besar. Di daerah selatan, saya hanya menjumpai satu pabrik pengeboran minyak (seperti kilang pertamina disini). Menurut beberapa orang yang saya temui..cadangan minyak mereka yang cukup besar itu memang “diawetkan”. Agar mereka bisa mendapatkan minyak yang lebih besar, lebih murah dan lebih menguntungkan … mereka berinvestasi ke beberapa negara kaya minyak. Jadilah akhirnya seperti PetroChina masuk ke Indonesia (sekarang lagi ekplorasi dan eksploitasi di daerah Bojonegoro, Tuban dan Lamongan.. yang merupakan sumur minyak blok Cepu.

Kita ini ibaratnya “AYAM DI LUMBUNG MATI KELAPARAN”…Negara kaya tapi rakyat tidak bisa menikmatinya. Sedang generasi yang baru tumbuh sudah terserang POLIO dan BUSUNG LAPAR.

Oh… nasib…nasib…

Oleh Kwik Kian Gie
Mantan Menneg PPN/ Kepala Bappenas

Belajar Mencintai Orang yang tdk “Sempurna” dg cara yang “Sempurna”

Tuesday, June 7th, 2005

Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk
dicintai,
Ketika kita berada di tempat pada saat yang
tepat,
Itulah kesempatan

Ketika engkau bertemu dengan seseorang
yang membuatmu tertarik,
Itu bukan pilihan itu kesempatan.
Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah
pilihan..
Itupun adalah kesempatan

Bila engkau memutuskan untuk mencintai
orang tersebut,
Bahkan dengan segala kekurangannya,
Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan
Ketika engkau memilih bersama dengan
Seseorang walaupun apapun yang terjadi
Itu adalah pilihan

Bahkan ketika kau menyadari
Bahwa masih banyak orang lain
Yang lebih menarik,pandai, dan kaya
Daripada pasanganmu dan
Tetap engkau memilih untuk mencintainya,
Itulah pilihan

Perasaan cinta,simpatik,tertarik
Datang bagai kesempatan pada kita..
Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan.
Pilihan yang kita lakukan.

Berbicara tentang pasangan jiwa,
Ada suatu kutipan dari film yang
Mungkin sangat tepat : Nasib membawa kita
bersama. Tetapi tetap bergantung pada kita
bagaimana membuat semuanya berhasil

Pasangan jiwa bisa benar-benar ada
Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang
Yang diciptakan hanya untukmu

Tetapi tetap berpulang padamu untuk
Melakukan pilihan apakah engkau ingin
Melakukan sesuatu untuk mendapatkannya
Atau tidak

Kita mungkin kebetulan bertemu
Pasangan jiwa kita, tetap mencintai dan
Tetap bersama pasangan jiwa kita tetap
Adalah pilihan yang harus kita lakukan.

Kita ada di dunia bukan untuk mencari
Seseorang yang sempurna untuk dicintai
TETAPI untuk belajar mencintai orang
Yang tidak sempurna dengan cara yang
Sempurna.

(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

Kekayaan, Kesuksesan dan Cinta

Wednesday, June 1st, 2005

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah,dan ia
melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan.
Wanita itu tidak mengenal mereka semua.
Wanita itu berkata: “Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu Untuk menganjal perut”.
Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, “Apakah suamimu sudah pulang?”
Wanita itu menjawab, “Belum, dia sedang keluar.”
“Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai
suamimu kembali”,kata pria itu.

Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini,lalu ia berkata pada istrinya, “Sampaikan pada mereka, aku telah kembali,dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini”.

Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke
dalam. “Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama,kata pria itu hampir bersamaan”.”Lho, kenapa?” tanya wanita itu karena merasa heran.
Salah seorang pria itu berkata, “Nama dia Kekayaan”, katanya sambil
menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya “Sedangkan yang ini
bernama Kesuksesan”, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya.
“Sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa di antara kami yang boleh masuk ke rumahmu”.

Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di
luar. Suaminya pun merasa heran. “Ohh… menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan”.
Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, “Sayangku,
Kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen gandum kita”.

Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. “Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Cinta”.

Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. “Baiklah, ajak masuk si Cinta ini ke dalam. Dan malam ini, Si Cinta menjadi teman santap malam kita”.

Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. “Siapa
diantara Anda yang bernama Cinta? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi
tamu kita malam ini”. Si Cinta bangkit, dan berjalan menuju beranda
rumah. Lho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta.

Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si
Kesuksesan. “Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi
kenapa kamu ikut juga?”

Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. “Kalau Anda mengundang Si kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka, kemana pun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Di mana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami buta.
Dan hanya si Cinta yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan Kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini”.

(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)