Goresan Mobil yang tak terlupakan
Wednesday, June 29th, 2005Tersebutlah seorang pengusaha muda dan
kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah,
sebuah Jaguar yang mengkilap.
Kini, sang pengusaha, sedang menikmati
perjalanannya dengan mobil baru itu.
Dengan kecepatan penuh, dipacunya
kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga
sekitar dengan penuh rasa bangga dan
prestise.
Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang
sedang bermain sambil melempar sesuatu.
Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak
terlalu diperhatikannya anak-anak itu.
Tiba-tiba, dia melihat seseorang anak kecil
yang melintas dari arah mobil-mobil yang di
parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak yang
tampak melintas sebelumnya.
“Buk….!” Aah…, ternyata, ada sebuah batu
seukuran kepalan tangan yang menimpa
Jaguar itu yang dilemparkan si anak itu.
Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu
yang dilontarkan seseorang. “Cittt….”
ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan
geram, dimundurkannya mobil itu menuju
tempat arah batu itu di lemparkan.
Jaguar yang tergores, bukanlah perkara
sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan
oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha
dalam hati. Amarahnya memuncak.
Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa.
Di tariknya anak yang dia tahu telah
melempar batu ke mobilnya, dan
dipojokkannya anak itu pada sebuah mobil
yang diparkir.
“Apa yang telah kau lakukan!? Lihat
perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!”
Lihat goresan itu”, teriaknya sambil menunjuk
goresan di sisi pintu.
“Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini
akan butuh banyak ongkos di bengkel untuk
memperbaikinya. “Ujarnya lagi dengan kesal
dan geram, tampak ingin memukul anak itu.
Si anak tampak menggigil ketakutan dan
pucat, dan berusaha meminta maaf.
“Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta
maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus
melakukan apa. “Air mukanya tampak ngeri,
dan tangannya bermohon ampun.
“Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena
tak ada seorang pun yang mau berhenti….”
Dengan air mata yang mulai berjatuhan di
pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu
arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi.
“Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia
tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Saya
tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi
tak seorang pun yang mau menolongku.
Badannya tak mampu kupapah, dan
sekarang dia sedang kesakitan..” Kini, ia
mulai terisak.
Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya
berharap pada wajah yang mulai tercenung
itu.
“Maukah Bapak membantuku
mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah,
kakakku terluka, tapi saya tak sanggup
mengangkatnya.”
Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha
muda itu terdiam. Amarahnya mulai sedikit
reda setelah dia melihat seorang lelaki yang
tergeletak yang sedang mengerang
kesakitan.
Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu
menelan ludah. Segera dia berjalan menuju
lelaki tersebut, diangkatnya si cacat itu
menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya
sapu tangan mahal miliknya, untuk
mengusap luka di lutut yang memar dan
tergores, seperti sisi pintu Jaguar
kesayangannya.
Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun
berterima kasih, dan mengatakan bahwa
mereka akan baik-baik saja.
“Terima kasih, dan semoga Tuhan akan
membalas perbuatan Bapak.”
Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan
pengusaha yang masih nanar menatap
kepergian mereka. Matanya terus mengikuti
langkah sang anak yang mendorong kursi
roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah
mereka. Berbalik arah, pengusaha tadi
berjalan sangat perlahan menuju Jaguar
miliknya. Dtelusurinya pintu Jaguar barunya
yang telah tergores itu oleh lemparan batu
tersebut, sambil merenungkan kejadian yang
baru saja di lewatinya. Kerusakan yang
dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi
pengalaman tadi menghentakkan perasaannya.
Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini.
Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat:
“Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”
Teman, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu untuk tetap berjalan.
Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan.
Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat, sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar?
Tuhan, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita.
Kadang, kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap ujaran-Nya.
Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu hidup dengan
penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas.
Teman, kadang memang, ada yang akan “melemparkan batu” buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak.
Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita.
(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)